Saksi Yehuwa bukanlah saksi Kristus

Pendahuluan

Ketika, saya tinggal di Jakarta, suatu hari saya mendengar ketukan pintu rumah. Dan ternyata yang datang berkunjung adalah dua orang wanita, yang tersenyum ramah, serta mengatakan ingin bersaksi tentang kebaikan Allah. Tentu saja saya menyambut baik kedatangan mereka. Mereka memperkenalkan diri mereka, bahwa mereka adalah anggota Saksi Yehova. Dan seperti biasa yang pernah saya dengar, mereka mulai mempertanyakan keadaan dunia ini yang terlihat menyedihkan dengan begitu banyak penderitaan dan kejahatan. Mereka telah mempersiapkan brosur yang berisi kegiatan dan pengajaran dari Saksi Yehovah, termasuk mendiskusikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Ini sungguh menyedihkan, namun di dalam hati, saya sungguh memuji kesungguhan hati mereka untuk mewartakan ajaran-ajaran yang dipercaya oleh kelompok Saksi Yehovah ini. Di sisi yang lain, saya merasa bahwa pewartaan yang tidak mewartakan kebenaran secara penuh, atau malah bertentangan dengan kebenaran, bukanlah pewartaan Kabar Gembira yang sejati. Mewartakan dimensi manusia dari Kristus tanpa mewartakan dimensi Ilahi-Nya adalah tidak lengkap dan bertentangan dengan kebenaran. Hal ini juga diperparah dengan ajaran lain yang menyimpang dari akal budi, prinsip keadilan, dan Alkitab, seperti ajaran tentang: tujuan akhir manusia, konsep antropologi yang salah, dll. Dalam tulisan ini, kita akan melihat sejarah berdirinya sekte ini, pengajaran mereka, dan memaparkan bahwa beberapa prinsip ajaran mereka adalah tidak benar.

Tentang Saksi Yehova

Pada tahun 1872, Charles Taze Russell (1852-1916) mendirikan satu sekte yang dinamakan Saksi Yehova atau Saksi Yehuwa (Jehovah’s witnesses). Charles T. Russell mempunyai latar belakang aliran Protestan (Congregationalism), dan kemudian dia mengikuti aliran Adventisme (Adventism), sebelum akhirnya mendirikan the Watchtower Bible and Tract Society, yang mengontrol perkembangan dan pengajaran dari Saksi Yehova, yang berpusat di Brooklyn, USA. Dari latar belakang ini, maka dapat dimengerti kalau beberapa doktrin yang dianutnya adalah dari Protestan dan juga dari Adventisme.[1] Beberapa doktrin Protestan yang dianut oleh Saksi Yehova adalah: penolakan terhadap beberapa pengajaran Katolik, seperti Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat, Api Penyucian, Perantaraan Para Kudus, dll. Silakan melihat beberapa artikel bagaimana mempertanggung-jawabkan iman Katolik di topik apologetik (silakan klik) dan di beberapa artikel dan arsip tanya jawab apologetik Kristen (silakan klik). Pengaruh dari Adventisme  dapat terlihat dari beberapa ajaran Saksi Yehuwa, seperti akhir jaman, Roh Kudus bukan pribadi, Yesus bukan Tuhan namun Malaikat Mikael – yang lebih rendah dari Allah, dll. Mari sekarang kita membahas beberapa pengajaran pokok dari Saksi Yehuwa yang sebenarnya bertentangan dengan Kitab Suci, akal budi, dan prinsip keadilan.

  1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.
  2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menempatkan Pencipta menjadi ciptaan.
  3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.
  4. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.
  5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.
  6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.
  7. Pengajaran bahwa tidak ada neraka yang kekal menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.

Salah satu pengajaran dari Saksi Yehuwa yang sungguh berbeda dibandingkan dengan pengajaran agama Kristen adalah mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Bagi mereka Tuhan adalah Yehuwa, dan bukan Trinitas – Satu Tuhan dalam tiga pribadi. Kalau ditelusuri, sebenarnya ajaran ini telah diajarkan oleh Arius, yang pada tahun 318 mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Dan para Bapa Gereja akhirnya dapat memusnahkan ajaran sesat ini pada tahun 325 melalui konsili Nicea, walaupun pengaruh ajaran Arius masih terus berlangsung sampai kurang lebih abad ke- 5. Di dalam kunjungan mereka ke rumah-rumah, biasanya, pada awalnya, mereka tidak terlalu membahas tentang identitas Yesus yang bukan Tuhan (dalam pengertian pribadi ke-2 dalam Trinitas). Mereka akan menceritakan tentang Yesus yang sungguh-sungguh memberikan jalan dan pengajaran yang begitu luar biasa kepada manusia, bahkan kadang-kadang mereka mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Namun, kalau ditanya lebih lanjut, apakah Yesus adalah Allah dalam pengertian Trinitas, Satu Allah dalam tiga pribadi, di mana Yesus adalah pribadi yang ke-dua, maka mereka akan mengatakan tidak. Saksi-saksi Yehuwa memberitakan setengah kebenaran, yaitu kemanusiaan Yesus, tanpa memberitakan kebenaran yang lain, yaitu ke-Allahan Yesus. Di dalam sejarah kekristenan, ajaran sesat yang berhubungan dengan kristologi, senantiasa menekankan sisi yang satu tanpa melihat sisi yang lain.[2] Untuk menjawab keberatan mereka tentang ke-Allah Yesus, maka silakan untuk membaca beberapa artikel tentang Kristologi yang telah ditulis oleh katolisitas.org:

Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia. Dan Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.

Berikut ini adalah beberapa pembuktian dari tulisan di atas, yang membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Pernyataan Yesus ini dilakukan dengan berbagai cara dan dalam berbagai kesempatan:

  1. Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
  2. Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
  3. Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
  4. Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi, sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
  5. Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner, mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
  6. Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
  7. Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
  8. Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
  9. Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
  10. Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
  11. Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
    • Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
    • Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
    • Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
    • Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
    • Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
    • Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.
    • Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    • Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
  12. Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
  13. Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
  14. Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
  15. Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
  16. Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menjadikan Pencipta menjadi seorang ciptaan.

Kalau bukan Tuhan, bagaimana Saksi Yehuwa mempercayai Yesus? Mereka mempercayai bahwa Yesus, Adam ke-dua, adalah penghulu malaikat Mikael.[3] Ajaran ini kalau ditelurusi merupakan suatu modifikasi dari ajaran agama gereja Mormon, yang percaya bahwa malaikat Mikael adalah Adam[4] Kalau kita dapat membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ajaran bahwa Yesus adalah malaikat Mikael adalah tidak mempunyai dasar. Oleh karena itu, silakan melihat beberapa artikel Kristologi dan argumentasi di atas. Kalau Yesus adalah Tuhan, maka tidak mungkin dia berhenti menjadi Tuhan, dan kemudian menjadi malaikat, mahluk yang diciptakan.

3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.

Salah satu pengaruh dari Adventisme kepada Saksi -saksi Yehuwa adalah meramalkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan akhir dunia. Mari kita melihat beberapa ramalan yang diberikan, yang saya ambil dari site Catholic Answer (silakan klik):

  • 1889: “Peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa (Why 6:14), dimana akan berakhir di tahun 1914 ..” (Studies, Vol. 2, 1908 edition, 101) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1891: “Dengan berakhirnya tahun 1914, apa yang Tuhan sebut Babilonia, dan apa yang orang-orang sebut Chistendom, akan berlalu, seperti yang telah ditunjukkan dalam nubuat” (Studies, Vol. 3, 153)
  • 1894: “Akhir dari tahun 1914 bukanlah hari untuk permulaan, namun untuk berakhirnya masa kesukaran” (WT Reprints, 1-1-1894, 1605 and 1677)
  • 1897: “Tuhan kita sekarang hadir, sejak Oktober 1874” (Studies, Vol. 4, 1897 edition, 621)
  • 1916: “Enam masa 1000 tahun yang bermula dari Adam telah berakhir, dan masa hari ke tujuh, 1000 tahun dari pemerintahan Kristus telah dimulai di tahun 1873” (Studies, Vol. 2, p. 2 of foreword)
  • 1917: “Alkitab … membuktikan bahwa kedatangan Kristus ke dua telah terjadi di musim gugur 1874” (Studies, Vol. 7, 68)
  • 1918: “Oleh karena itu, dengan penuh keyakinan kita boleh berharap bahwa 1925 akan menandai kembalinya Abraham, Isak, Yakub, dan nabi-nabi yang setia dari masa dulu” (Millions Now Living Will Never Die, 89) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1922: “Tahun 1925 adalah tahun yang lebih diindikasikan oleh Alkitab secara lebih nyata daripada tahun 1914” (WT, 9-1-1922, 262).
  • 1923: “Tahun 1925 secara pasti telah ditegaskan di dalam Alkitab. Seperti kepada nabi Nuh, umat Kristen sekarang mempunyai sesuatu yang lebih untuk mendasarkan imannya daripada yang dipunyai oleh nabi Nuh ketika dia mendasarkan imannya akan kedatangan banjir besar” (WT, 4-1-1923, 106).
  • 1925: “Tahun 1925 telah tiba…. umat kristen seharusnya tidak terlalu kuatir tentang apa yang mungkin terjadi tahun ini” (WT, 1-1-1925, 3).
  • 1931: “Ada bukti kekecewaan dari anggota Yehuwa di dunia tentang tanggal [prediksi] 1914, 1918 dan 1925, dimana kekecewaan hanya sementara. Kemudian para pengikut belajar bahwa tanggal-tanggal tersebut telah ditetapkan secara pasti di dalam Alkitab; dan mereka juga telah belajar untuk tidak menentukan tanggal yang pasti….” (Vindication, 388, 389). [catatan: nubuat akhir jaman yang diramalkan tahun 1914, 1918, 1925 tidaklah terbukti]
  • 1939: “Bencana dari Armagedon sudah dekat” (Salvation, 361).
  • 1941: “Armagedon pasti telah dekat … segera… dalam beberapa tahun” (Children, 10).
  • 1946: “Armagedon… akan terjadi sebelum 1972” (They Have Found a Faith, 44). [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1966: “Enam ribu tahun dari saat manusia diciptakan akan berakhir di tahun 1975, dan periode ke tujuh dari seribu tahun dari sejarah manusia akan dimulai di tahun 1975” (Life Everlasting in Freedom of the Sons of God, 29).
  • 1968: “Akhir dari enam ribu tahun dari sejarah manusia di musim gugur tahun 1975 bukanlah [bersifat] sementara, namun diterima sebagai suatu tanggal yang pasti” (WT, 1-1-1968, 271). [catatan: Hal ini tidak terbukti]

Dari sini, kita melihat bahwa ramalan-ramalan yang dilakukan oleh Saksi Yehuwa tidaklah terbukti, seperti ramalan-ramalan tentang akhir dunia dan armagedon. Dan kita tahu bahwa seorang nabi yang perkataannya tidak terbukti bukanlah nabi yang benar, seperti yang dikatakan di dalam Kitab Ulangan “apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ul 18:22; lihat juga Yer 23:16; 28:9). Dan ramalan tentang akhir dunia yang dibuat oleh Saksi Yehuwa tidak terjadi, bahkan bukan hanya gagal sekali, namun berkali-kali. Kalau Saksi Yehuwa membuat kesalahan doktrin tentang akhir jaman, maka pertanyaannya, bagaimana kita dapat percaya akan doktrin-doktrin yang lain?

5. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.

Ajaran pokok yang lain dari Saksi Yehuwa adalah hanya 144,000 orang yang dapat masuk dalam Kerajaan Sorga.[5] Yang termasuk dalam kelompok 144,000 orang ini disebut “yang diurapi” (the anointed), sedangkan orang-orang lain yang dibenarkan oleh Allah disebut “domba yang lain” (the other sheep). Kelompok yang diurapi dipercaya mulai dari para rasul sampai tahun 1935. Ini berarti orang-orang kudus di dalam Perjanjian Lama tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga, namun hanya akan hidup di dalam dunia yang penuh kebahagiaan, seperti yang dipercayai oleh Saksi Yehuwa. Mereka mendasarkan pengajaran ini dari Wahyu 7:1-8 dan Wahyu 14:1-5. Dikatakan “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” (Why 7:4) dan “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya” (Why 14:1). Dan mereka mengajarkan bahwa jumlah 144,000 harus diartikan secara harafiah/literal. Mari kita membahas, bahwa sebenarnya pengajaran ini sesungguhnya tidak masuk di akal dan tidaklah Alkitabiah.

  1. Kalau kita melihat di Wahyu 14:3-4 “3 Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. 4  Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.
  2. Kalau mereka ingin konsisten dengan pengertian harafiah 144,000 di ayat 3, maka seharusnya mereka juga mengartikan ayat empat secara harafiah. Karena ayat 4 mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan, maka 144,000 orang yang masuk Sorga adalah laki-laki yang hidup selibat. Namun yang terjadi adalah mereka mengatakan jumlahnya harus diartikan secara harafiah, namun siapa yang masuk Sorga dapat diartikan secara simbolik (tidak hanya laki-laki yang hidup selibat). Oleh karena itu, penafsiran ini menjadi tidak konsisten.
  3. Hal ini juga terjadi pada penafsiran berikut ini “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” (Why 7:4). Terlihat bahwa Saksi Yehuwa tidak konsisten dalam menafsirkan ayat ini, karena jumlah 144,000 diartikan secara harafiah, namun suku keturunan Israel diartikan secara simbolik, yakni tidak terbatas pada suku Israel saja – termasuk anggota Saksi-saksi Yehuwa dari bangsa Amerika.
  4. Anggaplah bahwa ajaran tentang Saksi Yehuwa adalah benar, bahwa hanya 144,000 orang saja yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga, mulai dari para rasul sampai tahun 1935. Yang perlu dipertanyakan di sini adalah, bagaimana mereka memperhitungkan jemaat perdana yang meninggal karena mempertahankan iman mereka dan menjadi martir, seperti pada jaman pemerintahan Nero (begitu banyak jumlah martir), Diocletian (20,000 martir), Shapur II (1,200 martir), Henry VIII (72,000), Nazi di Polandia (3,000), Tokugawa Leyasu di Jepang (37,000), dan masih  begitu banyak daftar martir-martir yang meninggal karena mempertahankan iman kekristenan mereka, bukan hanya ribuan, namun ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang. Bagaimana dengan para santa-santo, yang kurang lebih berjumlah 10,000 orang. Kalau benar-benar hanya 144,000 orang yang masuk dalam kerajaan Sorga, maka mungkin tidak ada anggota Saksi Yehuwa yang masuk Sorga, karena Saksi Yehuwa baru didirikan pada tahun 1872 dan Sorga telah terisi dengan para martir dan santa-santo yang telah meninggal sebelum tahun 1872. Kita tahu bahwa para martir telah melaksanakan perintah Yesus yang terutama “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39). Dan kehilangan nyawa untuk mempertahankan iman hanyalah mungkin kalau didasari oleh kasih yang tulus. Mungkin ada baiknya kita semua merenung, apakah kita semua – termasuk anggota Saksi Yehuwa – mempunyai kasih kepada Allah dalam derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan para martir?
  5. Anggaplah bahwa hanya 144,000 orang saja (yang anggotanya mulai dari para rasul sampai tahun 1935) adalah benar, seperti yang diajarkan oleh Saksi Yehuwa. Pertanyaannya adalah bagaimanakah nasib para nabi di dalam Perjanjian Lama, seperti Abraham, Musa, Elia, Henokh, dan banyak nabi lai sebelum Kristus – termasuk Yohanes Pemandi? Apakah mereka tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah Abraham yang menjadi bapa orang beriman (lih. Rm 4:16), sahabat Allah (Yak 2:23) tidak dapat masuk Sorga? Apakah Musa yang berbicara dengan Tuhan muka dengan muka, sebagaimana layaknya seorang teman (lih Kel 33:11) dan berbicara dengan Yesus pada peristiwa transfigurasi, tidak dapat masuk Sorga? Apakah Henokh yang berkenan kepada Allah, tidak meninggal dan diangkat ke Sorga tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga (lih. Ib 11:5). Apakah Elia yang diangkat ke Sorga (lih. 2 Raj 2:11) dan yang berbicara dengan Yesus pada transfigurasi (lih. Mat 17:3-4; Mrk 9:4; Lk 9:30) tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah Yohanes Pembaptis yang kedatangannya telah dinubuatkan sebelumnya (lih. Yes 40:3; Mal 4:5-6), yang mempersiapkan kedatangan Tuhan (lih. Mt 3;1-3; Mk 1:4; Lk 3:2-3; Yoh 1:6-8) tidak juga dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah semua nabi yang disebutkan di atas kurang iman dan suci dibandingkan dengan pendiri dan umat dari Saksi Yehuwa?

Mari sekarang kita melihat Wahyu 7 dan 14. Di atas telah dijelaskan bagaimana Saksi Yehuwa tidak konsisten dalam menginterpretasikan Alkitab. Mari sekarang kita melihat lebih mendalam tentang Kitab Wahyu ini. Saksi Yehuwa mengatakan bahwa 144,000 adalah orang-orang yang berada di Sorga. Namun, kalau kita melihat Wahyu 7:1-8, maka sebenarnya jumlah 144,000 orang ini berada di dunia. Dikatakan “Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.” (Why 7:1). Dan kemudian di ayat 4 dikatakan “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa jumlah 144,000 berada di dunia. Kalau demikian, berapakah jumlah yang masuk dalam Kerajaan Sorga? Wahyu 7:9 menyebutkan “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” Oleh karena itu, yang berada di Sorga adalah tidak terhitung banyaknya, dan bukan hanya 144,000.

5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.

Saksi Yehuwa mengajarkan bahwa hanya 144,000 yang diurapi[6], yang tentu saja adalah anggota dari Saksi Yehuwa, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga dan memerintah bersama dengan Tuhan. Anggota Saksi Yehuwa yang lain, yang disebut kumpulan besar (great crowd) akan menikmati kebahagiaan di dunia, sama seperti kebahagiaan Adam dan Hawa di Taman Eden. Namun doktrin ini sungguh tidak dapat dipertanggungjawabkan, dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tidak ada pembatasan jumlah orang yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Mt 5:11-12 mengatakan “11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Lebih lanjut rasul Paulus menegaskan “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” (Fil 3:20) Dari sini kita tahu bahwa tidak ada pembatasan jumlah umat beriman yang dapat masuk dalam kerajaan Sorga.
  2. Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah untuk dapat melihat Allah muka dengan muka (lih. 1 Kor 13:12) adalah merupakan kebahagiaan yang sempurna, yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan kebahagiaan kita di dunia ini – walaupun dengan kondisi seperti Taman Firdaus. Oleh karena itu, kebahagiaan di dunia yang dijanjikan oleh Saksi Yehuwa di luar 144,000 orang, tetaplah tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan di Sorga. Karena orang-orang yang mempunyai kebahagiaan di dunia tidaklah mungkin sebahagia mereka yang di Sorga, maka kebahagiaan di dunia adalah kebahagiaan yang tidak sempurna, kebahagiaan kelas dua. Lebih lagi, karena penentuan kebahagiaan ini adalah berdasarkan tahun kelahiran (karena yang menjadi bilangan dari 144,000 adalah dari jaman para rasul sampai tahun 1935), maka hal ini benar-benar menyalahi prinsip keadilan. Bagaimana mungkin, karena seseorang dilahirkan setelah tahun 1935, maka orang tersebut tidak dapat masuk dalam Kerajaan Sorga, walaupun orang tersebut adalah orang kudus, martir, dll. Bayangkan bahwa Bunda Teresa dari Kalkuta tidak dapat masuk sorga, sedangkan anggota Saksi Yehuwa sebelum tahun 1935 dapat masuk ke Sorga, meskipun kehidupan mereka kurang kudus dibandingkan dengan Bunda Teresa dari Kalkuta.
  3. Sungguh sulit dimengerti bahwa ada orang yang mau untuk melepaskan kewarganegaraan di Sorga (lih. Fil 3:20) dan hanya cukup dengan menikmati kebahagiaan abadi di dunia ini. Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Tesalonika – yang berfikir bahwa orang yang meninggal sebelum kedatangan Kristus yang kedua tidak beruntung – bahwa sebenarnya semua umat beriman, baik yang meninggal sebelum atau sesudah kedatangan Kristus yang kedua akan diangkat dan memperoleh kebahagiaan di dalam Kerajaan Sorga.

Membedakan tujuan akhir dari manusia – di Sorga berjumlah 144,000 dan di dunia yang beranggotakan umat Saksi Yehuwa – adalah seperti sistem kasta berdasarkan tahun, yaitu tahun dari para rasul sampai 1935. Dan sungguh sulit dimengerti bagaimana manusia yang seharusnya mempunyai kewarganegaraan di Sorga dapat menerima dan menukar kebahagiaan Sorga dengan kebahagiaan duniawi.

6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.

Saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa manusia tidak bersifat spiritual dan kekal, namun jiwa manusia adalah badan. Oleh karena itu, pada waktu seseorang meninggal, maka jiwanya juga lenyap. Dan pada akhir zaman, maka jiwa manusia diciptakan kembali dari sesuatu yang tidak ada untuk masuk ke Sorga maupun kebahagiaan di dunia. Kita dapat membuktikan bahwa jiwa manusia adalah kekal berdasarkan filosofi dan juga Alkitab.

  1. Kalau kita mengamati, maka ada begitu banyak aktivitas manusia yang dilakukan bukan sebatas aktivitas tubuh atau material, seperti: berfikir, menginginkan, melakukan pemeriksaan batin, menyadari keberadaannya, keinginan bebas, dll. Semua ini bukanlah aktivitas tubuh, namun lebih bersifat spiritual. Sesuatu yang bersifat spiritual (bukan material) tidak mungkin dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat material, namun harus dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat spiritual.Sesuatu yang bersifat material, seperti tubuh kita, terdiri dari bagian (part). Dan pada waktu mati, maka bagian-bagian itu menjadi terpisah dan terurai. Namun, sesuatu yang bersifat spiritual (seperti jiwa kita) tidak mungkin mati, karena sesuatu yang spiritual tidak mempunyai bagian.  Oleh karena itu, sesuatu yang bersifat spiritual menjadi kekal dan tidak mungkin mati.
  2. Alkitab juga menyediakan bukti-bukti bahwa jiwa manusia adalah bersifat kekal dan tidak mungkin mati.[7]
    • Kej 1:27 menceritakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah. Karena Allah adalah murni bersifat spiritual (lih. Jn 4:24), maka pasti ada elemen dari manusia yang bersifat spiritual.
    • 1 Sam 28 menceritakan bagaimana Samuel yang telah meninggal menampakkan diri kepada Saul. Ini berarti roh Samuel tidak musnah, namun masih tetap hidup.
    • Mt 10:28 menegaskan bahwa tentang jiwa yang kekal dan badan yang bersifat sementara, karena Yesus mengatakan bahwa tidak perlu kuatir kepada manusia yang dapat membunuh tubuh, namun bukan jiwa.
    • Mt 17:1-8 menggambarkan peristiwa transfigurasi, dimana Yesus bercakap-cakap dengan Musa dan Elia. Karena Musa diceritakan telah meninggal (lih. Ul 34:5), maka kematian tidak membuat Musa menghilang.
    • Lk 16 menceritakan bahwa Abraham, Lazarus dan orang kaya telah meninggal, namun diceritakan masih hidup di dunia yang lain.
    • Why 6:9-10 menyatakan tentang jiwa-jiwa yang telah dibunuh, namun masih hidup dan bercakap-cakap dengan Penguasa yang Kudus.

7. Pengajaran bahwa tidak adanya neraka menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

Selain jiwa manusia tidak bersifat kekal, Saksi-saksi Yehuwa juga percaya bahwa tidak ada neraka kekal. Kalau demikian, apa yang terjadi dengan jiwa-jiwa yang jahat maupun setan? Saksi-saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa-jiwa tersebut dimusnahkan dan tidak ada lagi. Hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan dan bertentangan dengan Alkitab dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tuhan telah menciptakan jiwa manusia maupun malaikat, yang bersifat kekal, seperti yang telah di bahas pada point di atas. Kalau Tuhan telah menciptakan jiwa yang kekal dan kemudian memusnahkannya dan membuatnya tidak ada, maka sebenarnya Tuhan mengkontradiksi rencana-Nya sendiri. Karena Tuhan tidak mungkin mengkontradiksi Diri-Nya sendiri, maka tidak mungkin jiwa yang bersifat kekal dimusnahkan dan menjadi tidak ada.
  2. Kita juga melihat bahwa ajaran tidak ada neraka sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab.
    • Mt 3:12 mengatakan “Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (lih. juga Lk 3:17). Api yang tak terpadamkan ini mengacu kepada neraka yang abadi.
    • Mk 9:43 menegaskan “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan” (lih. juga Mt 18:8). Ayat ini juga mengacu kepada neraka, dimana lebih baik kita kehilangan semua hal yang bersifats sementara daripada mendapatkan hukuman abadi di neraka dan dimasukkan ke dalam api yang tak terpadamkan.
    • Mt 25:46 mengatakan “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” Dari ayat ini, kita menyadari bahwa bagi mereka yang benar akan masuk dalam hidup yang kekal, sebaliknya orang-orang yang tidak benar akan mendapatkan siksa abadi di neraka.

Dari ekpresi yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut di atas, seperti: api yang tak terpadamkan, siksaan yang kekal, maka kita mengetahui bahwa neraka adalah sesuatu yang nyata. Dan kenyataan ini bukan hanya sementara, namun berlangsung untuk selamanya. Kalau di ayat Mt 25:46 dibandingkan antara kehidupan kekal dan siksaan kekal, maka akan menjadi tidak konsisten kalau kita mau menerima konsep kehidupan kekal namun tidak mau menerima adanya konsep siksaan kekal. Kalau seseorang percaya akan kehidupan kekal dari Alkitab, maka seseorang juga harus percaya akan siksaan kekal, yang juga diwahyukan oleh Allah kepada manusia.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka banyak ajaran dari Saksi-saksi Yehuwa yang bertentangan dengan Alkitab, akal budi, dan bahkan bertentangan dengan keadilan. Memberitakan Kristus yang bukan Tuhan, bukanlah ajaran Kristen, karena kekristenan mendasarkan iman, pengharapan dan kasih pada Kristus yang adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia. Kalau Kristus bukan Tuhan dan ‘hanya’ malaikat Mikael, maka sia-sialah pengharapan kita, karena kita hanya berharap pada ciptaan dan bukan pada Pencipta. Kalau kita tidak mempunyai tujuan ke Sorga dan bersatu dengan Tuhan untuk selama-lamanya di dalam Kerajaan Sorga, maka sia-sialah semua yang dilakukan di dunia ini. Kalau tidak ada pengadilan terakhir dan tidak ada neraka, maka keadilan yang seadil-adilnya tidak dapat ditegakkan. Kalau ada yang mau kita pelajari dari Saksi Yehuwa, maka kita tidak boleh percaya akan pengajaran mereka, namun kita harus meniru semangat mereka untuk memberitakan Injil. Bahkan pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), Mother Angelica mengatakan “Berikan kepadaku 10 orang Katolik, yang mempunyai semangat seperti Saksi Yehuwa, dan aku dapat merubah dunia.” Mari, kita semua, yang menjadi umat Gereja Katolik – Gereja mempunyai kepenuhan kebenaran -, kita harus dengan giat dan penuh semangat memberitakan kebenaran Kristus dan Gereja-Nya. Semoga Roh Kudus memberikan kebijaksanaan kepada kita semua, agar kita dapat mempertahankan kebenaran dan bertumbuh terus di dalam kebenaran.

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39).

CATATAN KAKI:

  1. Adventisme mengacu kepada gerakan keagamaan yang sangat kuat di sekitar tahun 1800-an, seperti the Mormons, the Seventh Day Adventists / Tujuh Hari Adven []
  2. Ajaran yang menolak kemanusiaan Yesus: Docetism, Gnosticism, Manichaeism, Apollinarism, Monophisitism. Ajaran yang menolak ke-Allahan Yesus: Adoptionism, Arianism. []
  3. lih. Aid to Bible Understanding, p. 1152, yang mengatakan “Michael the Archangel, the first creation of Jehovah, before He came to earth and returned to the identity of Michael after his ressurection.“; lihat juga United in Worship, p. 29 yang mengatakan “Michael the Archangel is no other than the only begotten son of God, now Jesus Christ. That Jehovah directly created only one thing, Michael the arch angel and that Michael created all other things.“ []
  4. Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 3, mengambil sumber dari Brigham Young, Journal of Discourse []
  5. Reasoning from the Scriptures (Reasoning) [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1985], 166 []
  6. Insight on the Scriptures (Insight), 2 vols. [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1988], 786 []
  7. Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 14-15 []

Perangkaan tepat Muslim murtad perlu segera didedah

2011/08/14 Yusri Mohamed, Presiden PEMBELA

Berani hadapi kenyataan permudah rangka tindakan ISU murtad bukan perkara baru, namun gempar semula susulan pemeriksaan penguat kuasa Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) ke atas sebuah gereja di Damansara dan mendapati ada orang Islam menyertai majlis di dalamnya. Wartawan Berita Minggu, ROHANIZA IDRIS dan SYED MOHD RIDZUWAN SYED ISMAIL bertemu Pensyarah Pengajian Dakwah dan Kepimpinan Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof Dr Badlihisham Mohd Nasir dan Presiden Pertubuhan Pembela Islam (PEMBELA), Dr Yusri Mohamed untuk menghuraikan isu ini. Badlihisham Mohd Nasir Orang miskin yang beragama, tidak sanggup buat begitu kerana mereka percaya miskin adalah ujian keimanan. Mereka yang tiada ilmu atau kurang didikan agama saja sanggup menggadai akidah. – Yusri Mohamed, Presiden PEMBELA PADA pandangan Prof, sejauh mana parahnya isu murtad di negara kita kerana sebelum ini, Tan Sri Dr Harussani Zakaria mendakwa lebih 230,000 Muslim di Malaysia murtad? Jumlah besar Islam murtad terdiri daripada mereka yang pernah memeluk Islam dan kemudian keluar agama ini termasuk Orang Asli. Ia bukan angka masuk Kristian di kalangan orang Islam secara khusus. Kita tidak mahu ada pihak menggunakan angka tidak dipastikan ini yang akhirnya menimbulkan rasa tidak tenteram sehingga memerlukan penyelamat atau hero tidak diundang. Sedangkan mereka sebelum ini tidak ambil peduli pun. Pihak berkuasa agama mungkin tiada data kemas merujuk isu ini atau mungkin disembunyikan atas alasan tertentu. Ini menyukarkan khususnya bagi kajian objektif dan terperinci dilakukan ahli akademik atau orang luar. Usaha ke arah mendapatkan jumlah tepat atau profiling perlu segera dilakukan. Sebagai umat Islam bertanggungjawab, kita harus berani berdepan situasi sebenar sebelum merangka dan mengambil tindakan sewajarnya. Benarkah Islam murtad didorong sogokan dan bantuan atas faktor kemiskinan. Apakah selemah itu masyarakat Islam hingga senang sekali murtad? Pemberian wang dan bantuan ada asasnya kerana dalam konteks gerakan pendakyah Kristian, wujud konsep ‘diakonia’ iaitu khidmat masyarakat kerana ia tuntutan bagi melaksanakan manifestasi Love of God yang menjadi asas agama itu. Namun, tidak semua penganut Kristian mempunyai orientasi itu seperti tidak semua Muslim ada visi dakwah. Dalam Kristian, tidak semua terbabit menyebar agama, begitu juga dalam Yahudi tidak semua jahat kecuali Zionis. Bagi misionari Kristian, tumpuan diberi kepada aspek kebajikan dalam menarik minat penganut. Sudah tentu isu kemiskinan boleh digunakan untuk melaksanakan misi dan visi mereka. Kita harus serius terhadap perkara ini kerana Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Kefakiran boleh membawa kepada kekufuran.” Pertolongan gerakan ini harus dilihat penuh hati-hati walaupun hasil perbincangan saya dengan pihak Kristian, tidak semestinya mereka mencapai objektif mengkristiankan orang ramai setiap kali memberi bantuan kerana itu sebahagian tanggungjawab. Mereka yang ada masalah ekonomi, ditambah dangkal mengenai Islam memang terdedah kepada proses murtad. Namun, tidak semudah itu umat Islam murtad. Takkanlah dengan hanya membaca Bible atau hadir majlis di gereja menyebabkan mereka menukar agama. Bahkan bagi mereka yang lengkap ilmu agama sendiri, ia berguna bagi melihat perbandingan Islam dengan agama lain dan dapat meningkatkan lagi keimanan. Bagaimana dengan konsep perbincangan atau sikap terbuka antara agama? Seorang aktivis Muslim di United Kingdom yang saya temui berasa Islam sangat sempurna apabila melalui proses inter-religious community, melawat tempat ibadat agama lain di samping mendapat penerangan lanjut tokoh agama itu. Ini tidak termasuk tokoh Kristian sendiri yang memeluk Islam selepas mereka mempelajarinya. Ramai terpesona dengan kaedah perbandingan ini. Baru-baru ini, bekas Perdana Menteri Britain, Tony Blair, menyatakan beliau kerap baca al-Quran dan mengaku banyak mendapat perkara baru daripadanya. Bagi orang awam, kehadiran di tempat sedemikian (ke gereja) boleh menimbulkan fitnah kerana pihak Kristian yang berniat memurtadkan orang Islam dibekalkan dengan pendekatan kontekstualisasi, cuba membumikan Kristian dengan acuan budaya tempatan. Mereka menggunakan nama Allah, mengekalkan adat dan budaya tempatan bahkan ritual agama juga. Di Indonesia, ada orang Kristian menutup aurat, mengaji Bible dengan nada seperti membaca al-Quran. Kita mungkin boleh tafsirkan bahawa perbuatan menyamakan berbuka puasa dengan thanksgiving adalah satu daripada pendekatan itu. Walaupun penganjur menafikan niat sebenar, mereka harus mengambil kira sensitiviti ini. Walaupun kecenderungan Kristian kini membentuk pendekatan baru yang lebih toleransi dan harmoni melalui inter-religious witness berbanding orientasi misionari, apakah jaminan mereka bebas daripada misi sebenar. Jika ingin menganggap semua agama sama, Islam tetap tidak dapat menerima pluralisme dan liberalisme, Islam bukan sekadar agama ritual tetapi sistem hidup yang lengkap. Berbalik kepada kemiskinan yang mungkin digunakan misionari memurtadkan orang Islam. Bolehkah ia dikaitkan dengan kelemahan sistem pengagihan wang zakat dalam Islam? Jika kita ke pusat zakat, orang yang ingin membayar zakat disambut dengan senyuman dan ada juga diberi cenderamata, berbeza dengan layanan terhadap orang yang datang untuk meminta zakat, ditambah dengan pelbagai prosedur menyukarkan golongan yang jahil mengenai hak mereka mendapat pembelaan. Kita kena sedar orang miskin lazimnya datang dari satu pakej latar belakang pendidikan rendah dan ramai tidak tahu prosedur. Ada juga masalah profiling asnaf di agensi berkaitan sehingga sukar menjejak mereka yang layak. Orang yang datang biasanya terdesak memerlukan bantuan sedangkan mereka terpaksa melalui birokrasi rumit. Namun, saya yakin agensi berkenaan sedar dan berusaha memperbaiki masalah ini. Kesalahan juga boleh diletakkan kepada fakir yang sengaja mencari kesempatan membolot bantuan walaupun walaupun menggadai akidah di pusat bantuan agama lain. Bagaimana mahu membendung murtad, sedangkan ada dakwaan jika minum air suci atau holy water pun sukar mengucap dua kalimah syahadah, seterusnya melupakan Islam? Rasionalnya, takkanlah minum air boleh sebabkan seseorang murtad atau lupa. Jika begitu, kerja misionari Kristian sangat mudah. Kita hendaklah adil sekalipun terhadap musuh. Janganlah guna hujah palsu bagi menunjukkan kepalsuan agama lain atau dengan tujuan menunjukkan kita terancam. Hebat sangat nampaknya Kristian sampai menimbulkan rasa takut umat Islam. Namun jika dakwaan itu betul, ia perlu diambil perhatian kerana sihir bukan boleh dinafikan begitu saja. Walaupun isu ini dinafikan pihak gereja, ia perlu dijejaki untuk membuktikan kebenarannya. Jika benar, ia termasuk dalam kategori paksaan secara tidak langsung. Dalam kes JAIS, ia menjadi rumit kerana masalah pendekatan, berkait dengan waran dan sebagainya. Kenapa tidak bagi ruang kepada JAIS menjalankan tugas kerana melalui kenyataan jabatan itu, mereka pergi (memeriksa gereja) dalam keadaan baik dan mempunyai bukti. Masyarakat harus bersabar kerana JAIS bertindak mengikut undang-undang yang termaktub dalam Perlembagaan. Kita mungkin boleh mempersoalkan cara dan pendekatan, tetapi tidak dalam masalah prinsip. Jika terbukti ada usaha mengkristiankan atau sebaliknya, biar mahkamah memutuskan. Undang-undang yang ada jangan dilihat menceroboh hak penganut agama lain. Sejarah menunjukkan Kristian mengenakan hukuman berat kepada mereka yang tinggalkan agama itu tetapi ia larut dalam arus sekularisme dan liberalisme di Barat. Orang Islam berhak menjaga agama selaras dengan undang-undang murtad dan tidak menceroboh hak agama lain. Kita juga perlu memperkasakan lagi fungsi surau dan masjid. Pintu masjid perlu dibuka kepada semua dengan menjaga adab dan aktif aktiviti kemasyarakatan seperti gereja. Gelandangan dan pesakit termasuk penghidap AIDS mendapat tempat di gereja sedangkan orang Islam memandangnya jijik. Versi lama masjid hanya tempat solat perlu diubah seperti diimarah secara meluas pada zaman Rasulullah SAW. Umat Islam perlu tampil memimpin semua agama, harus jadi umat terbaik menyatukan kepelbagaian kepercayaan dalam suatu kuasa yang dihormati. Apa yang berlaku kini Kristian aktif mendominasi sedangkan Islam boleh menjadi payung semua agama. Hidayah adalah kurniaan Allah tetapi kita harus berusaha berdakwah dengan pelbagai cara termasuk memimpin mereka walaupun mereka tetap kekal dalam agama masing-masing. Akhirnya kita harus bijak agar isu ini tidak menenggelamkan isu lain yang lebih penting. Miskin bukan alasan gadai akidah Yusri Mohamed BAGAIMANA PEMBELA melihat isu murtad yang kembali menggemparkan negara? Murtad di Malaysia adalah kes serius tanpa perlu mengambil kira berapa jumlah yang sudah murtad. Selama ini, mengikut Perlembagaan, kita berjaya mempertahankan setiap orang yang dilahirkan Islam tidak boleh menukar agamanya. Apa yang sudah dipraktikkan itu sangat berjaya dalam negara majmuk, yang tidak ada di negara lain. Kes murtad walaupun hanya seorang, adalah serius. Cubaan memurtadkan orang Islam semakin bertambah dan dibimbangi terus meningkat jika tiada usaha segera menyekatnya. Dalam kes gereja di Damansara itu, jelas membuktikan ada gerakan memurtadkan umat Islam. Ini ancaman baru yang cuba dilakukan secara tersembunyi, tetapi semakin berani dan agresif. Adakah ini kerana kelemahan penguatkuasaan dan gerakan dakwah Islam? Semua perlu muhasabah dalam isu ini. Pemimpin negara peringkat tertinggi ada peranan, perlu tegas dan konsisten. Penguatkuasaan juga perlu ditingkatkan, undang-undang perlu digunakan sebaiknya. Jangan gentar dengan tindak balas pihak yang diambil tindakan. Kita kena lihat juga cubaan yang mengganggu gugat kes penguatkuasaan seperti laporan media yang berpihak kepada satu kumpulan. Institusi agama termasuk pertubuhan Islam, komuniti dan keluarga perlu ambil serius isu murtad. Keluarga harus ambil berat ahli masing-masing dan memastikan pendidikan agama diberi. Pendidikan dapat menjadi benteng untuk tidak jahil, kufur seterusnya murtad. Sokongan keluarga kunci menyekat diri daripada murtad. Dalam pendedahan kes murtad, tiada sokongan keluarga menyebabkan seseorang terpinggir dan mencari jalan penyelesaian dengan menerima tawaran pihak yang suka mengambil kesempatan. Faktor tekanan hidup, masalah kewangan dan kemiskinan dijadikan alasan untuk murtad. Adakah isu kemiskinan umat gagal ditangani? Faktor itu tidak boleh dijadikan alasan untuk murtad. Saya pasti mereka yang miskin dan tertekan sengaja menggadaikan maruah dan agama demi wang. Tidak perlu hanya kerana hidup miskin, sanggup gadaikan akidah. Orang miskin yang beragama, tidak sanggup buat begitu kerana mereka percaya miskin adalah ujian keimanan. Mereka yang tiada ilmu atau kurang didikan agama saja sanggup menggadai akidah. Pihak berwajib dalam bidang pendidikan dan agama perlu menilai pendidikan dan dakwah kepada umat Islam. Begitu juga soal memberi perlindungan kepada mereka yang cetek agama, miskin, pesakit dan mualaf. Memang rumah perlindungan bertambah, malah jabatan agama Islam bekerjasama dengan pertubuhan bukan kerajaan (NGO) Islam menubuhkan rumah perlindungan yang sebelum ini lebih banyak gereja buat. Diharap banyak lagi rumah seperti itu diwujudkan. Bagaimana dengan penggunaan media baru untuk menyebarkan agama selain Islam? Media baru dan kecanggihan teknologi dalam dakwah, sebenarnya ada kebaikan dan keburukan. Perkembangan teknologi komunikasi dan maklumat (ICT) menyebabkan batasan selama ini terbuka luas, malah ramai berani membicarakannya secara terbuka. Pada masa ia memberi kelebihan mendedahkan Islam kepada dunia luar, pintu untuk memurtadkan orang Islam juga terbuka luas. Saya percaya isu murtad lebih kepada kelemahan pegangan agama, bukan kerana kecanggihan ICT. Apakah pendapat anda terhadap pihak yang menuduh JAIS melanggar Perlembagaan, menyekat kebebasan beragama kerana melakukan pemeriksaan di gereja di Damansara itu? Kenyataan sedemikian dikeluarkan mereka yang tidak mahu mendengar penjelasan JAIS. Mereka juga menentang dan memesongkan tafsiran Perkara 11 dalam Perlembagaan dan cuba mengelirukan orang lain dengan tuntutan bukan-bukan. Perkara 11 menyebut kebebasan beragama, namun ada batasannya. Golongan itu membawa dakyah untuk memecah belah rakyat asalkan niat mereka tercapai. Usah berkompromi dengan perkara berkaitan akidah dan iman. Ada umat Islam dalam membicarakan isu agama, sering melupakan akidah dan iman, menghalalkan cara dan membelakangkan agama, pentingkan kelangsungan politik serta kedudukan. Kita perlu tegas jika bicara soal akidah, iman dan agama. Sesetengah orang begitu tegas dalam isu demokrasi dan hak asasi pilihan raya tetapi tidak berani bersuara dalam kes agama, akidah dan iman. Jelas berlaku kemungkaran. Yang lantang memberi komen ialah pihak cetek agama serta ada sentimen politik. Ada pihak tidak suka JAIS atau apa saja dilakukan badan itu mahu dipolitikkan. Ini amat menyedihkan untuk umat Islam di negara ini.

Sumber: http://www.bharian.com.my/bharian/articles/PerangkaantepatMuslimmurtadperlusegeradidedah/Article

Saya ambil perkataan  penghibur sebagai tajuk diatas untuk dialog. Penghibur perlu masukkan semua fakta dari kitabnya supaya dapat dibidas. Terang-terang kristian menganggap dakwaan penghibur (majoriti sbb saya yakin bukan semua umat islam mentafsir maksud yang sama) sebagai omong kosong dari sumber yang salah.

Sumber: Kosmo Online

82 anggota polis cedera


SEJUMLAH penunjuk perasaan bergelut dengan anggota-anggota polis di Belfast, Ireland Utara kelmarin.


 

BELFAST – Para pemimpin politik dan ketua keselamatan wilayah Ireland Utara semalam mengecam militan-militan nasionalis Ireland kerana mencederakan 82 anggota polis dalam rusuhan selama dua malam sejak kelmarin yang tercetus semasa satu perarakan tahunan yang dilakukan oleh penduduk Kristian bermazhab Protestan.

Ramai anggota polis berkenaan cedera ringan tetapi dua lagi masih dirawat di hospital iaitu seorang anggota polis yang luka di dada dan tangan akibat terkena tembakan senapang patah.

Seorang anggota polis wanita cedera selepas kepalanya dibaling seketul batu dari atas bumbung sebuah kedai berhampiran.

Rusuhan tersebut melibatkan golongan pekerja bermazhab Katholik di bandar ini dan di beberapa bandar lain.

Insiden itu berlaku sebelum puluhan ribu anggota sebuah kumpulan Protestan, Persaudaraan Order Jingga berarak di 18 buah lokasi di serata Ireland Utara dalam satu perhimpunan tahunan bagi mempamerkan kekuatan komuniti mereka.

Ahli-ahli politik berkata, kumpulan perusuh itu yang dipengaruhi oleh pergerakan militan tempatan, Tentera Republik Ireland (IRA) enggan bertolak ansur untuk membenarkan perarakan tersebut diadakan.

Kumpulan perusuh itu kemudian bertindak menyerang anggota-anggota polis yang berkawal.

Pertelingkahan antara penduduk berfahaman Katholik dan Protestan di Ireland Utara berlaku sejak beberapa dekad lalu. – AP

Saya masih ingat perkataan itu. Atau setidak-tidaknya itu memang ada di hati sesetengah golongan ekstrimis. Golongan inilah yang menghuru-harakan bandar-bandar. Bom sana sini. Tetapi pada saya, ilmu agama islam yang berkata begitu sangat sedikit. Sangat menakutkan apabila ada orang cakap begitu. Memang begitukah pendirian masjid? Iaitu non muslim harus dilenyapkan dimuka bumi ini? Jika muslim takut yahudi, muslim pula telah menakutkan kristian.

Harap-harap di Malaysia tiada pelampau agama islam. Itu sangat menakutkan kami. Yesus berkata, kami akan disertainya sampai akhir zaman. Kami yakin kristian tetap ada sampai kedatangan Yesus yang kedua kali.

Luk 10:25  Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
  Luk 10:26  Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”
  Luk 10:27  Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
  Luk 10:28  Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
  Luk 10:29  Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
  Luk 10:30  Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
  Luk 10:31  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
  Luk 10:32  Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
  Luk 10:33  Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
  Luk 10:34  Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
  Luk 10:35  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
  Luk 10:36  Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
  Luk 10:37  Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Ulasan saya: Ini adalah pembacaan injil gereja katolik hari ini. Kotbah paderi @ (yang dinamakan homili dalam bahasa gereja katolik) sangat menarik. Menjelaskan satu-satu. Paderi memberi homili lebih kurang 15 minit dan semua umat mendengar penuh minat. Peristiwa itu masih relevan pada hari ini, kata paderi.

Saya teringat kisah-kisah benar tentang topik pembacaan. Dari katolik sendiri, dari umat protestant, dari agama non kristian juga. Saya teringat umat kristian sendiri yang tidak prihatin terhadap jiran atau sesiapa yang dijumpainya, saya teringat ada yang memilih-milih penjual semasa bercari sayur atau daging ayam di tamu, saya teringat seorang ibu muslim membelikan hadiah sempena kelahiran cahaya mata sahabat kristian, saya teringat yang sesama kristian sendiri tidak terfikir hal demikian. Hal yang lebih besar ialah, bagaimana jika umat islam berniaga, apakah umat kristian membeli? Atau jika umat kristian berniaga, apakah umat islam membeli? Di Sabah dan Sarawak tentu hal ini tidak sensitif tetapi di Semenanjung, agak sensitif.

Dalam konteks kenegaraan, bagaimana kalau sahabat kristian menjual produk fizikal atau digital secara online? Contoh: ebook informasi. Sahabat muslim belikah? Saya merasa kurang yakin. Petikan injil di atas boleh diajukan sebagai topik perbincangan. Renungan kristian mahupun umat islam. Lihatlah bagaimana orang samaria yang dianggap orang asing bagi kaum yahudi menunjukkan nilai-nilai kerohanian yang tinggi terhadap orang asing? Perbuatan begini sangat tinggi nilainya di syurga Allah (bukan kayangan ya?).

Sumber:

http://jesustriniti.blogspot.com/

PERIHAL TRINITI
 

Perihal Triniti

Disebut trinity (English) atau trinitas (Indonesia). Dalam Persidangan Nicea 325 M, gereja Trinitari (pendokong fahaman triniti) dengan sokongan pemerintah mengemukakan doktrin “homoousious” yang bererti Bapa, Anak (Jesus) dan Roh Kudus adalah “SETARA, SAMA ABADI & SAMA PENTING”. Lebih dikenali sebagai “3 dalam 1” dan “1 dalam 3”. Doktrin ini dikenali sebagai “Creed of Nicea”.

…kita menyembah satu tuhan di dalam Triniti dan Triniti adalah satu… kerana hanya terdapat satu orang daripada Bapa, satu lagi daripada Anak, dan satu lagi daripada Roh Suci, semuanya adalah satu… Tiada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan… ketiga-tiga orang sama abadi dan setara antara satu sama lain.

(Petikan “Athanasian Creed”).

Kemudian doktrin ini diperkukuhkan pada Sidang Constantinople pada tahun 381 Masehi. Trias pertama kali disebutkan pada tahun 180 oleh Theophilus dari Antiochia, namun ini bukanlah Trinitas sungguhpun ia telah diterjemahkan sebagai Trinitas oleh mereka yang berkepentingan.

Dikatakan Jesus 100% Tuhan. Adakah Bapa 100% Jesus? Adakah Roh Kudus 100% Bapa? Adakah Roh Kudus 100% Jesus?

Jawapan: __________________

Gereja-gereja Unitari (pendokong fahaman bahawa Bapa sahaja yang mesti disembah sebagai Tuhan) telah ditindas selepas itu dengan pelbagai kezaliman. Apa sahaja dokumen Bible dan Gospel yang masih ada pada mereka dirampas dan dimusnahkan, dengan harapan agar fahaman Unitari pupus.

Namun usaha golongan Unitari untuk mentauhidkan Allah (iaitu Bapa) dan mengekalkan ajaran Jesus tak kurang hebat. Apabila Bible/ Al Kitab dan logik dijadikan kayu ukuran, sentiasa sahaja golongan Unitari berjaya mematahkan hujah-hujah golongan Trinitari. Oleh kerana gereja Trinitari dan pemerintah tidak mampu lagi untuk membuktikan fahaman mereka menggunakan Bible ataupun logik, mereka memperkenalkan “beriman secara buta” atau “beriman secara misteri”.

Antara hujahnya, Tuhan itu tidak boleh difikirkan kerana tak akan sampai pemikiran manusia untuk memahami triniti, maka percaya sajalah, jangan disoal-soal. Ada juga mengatakan kononnya triniti atau tidak tak penting. Yang penting ialah mengasihi Tuhan Jesus dengan sepenuh hati, pasti akan masuk ke syurga. Pemerintah memaksa orang ramai untuk “beriman buta” atau “iman misteri”. Sesiapa yang berani mempersoalkannya dianggap sesat, diseksa ataupun dibunuh.

“Oleh yang demikian seseorang yang mahu diselamatkan mestilah mengimani triniti…

(Petikan “Athanasian Creed”).

Amaran Bible:

“Siapa yang ada telinga, hendaklah dia mendengar!”

(Matius 13: 43)

“Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

(Markus 4: 23)

“Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi.”

(Markus 8: 18)

Tidak boleh beriman secara buta sahaja, atau secara misteri sahaja. Kita mestilah mengambil tahu apa pandangan orang tentang agama kita, barulah kita tahu di mana betul salahnya. Tetapi kita sedia maklum:

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit saja yang terpilih.”

(Matius 22: 14)

Bolehkah beriman secara “buta’ atau secara ‘misteri’ tanpa perlu difikir-fikir lagi? Jesus memberikan jawapannya:

“Kasihilah Tuhan kamu… DENGAN SELURUH AKAL”

(Markus 12:30)

“Memang mengasihi Dia (Tuhan) dengan segenap hati dan DENGAN SEGENAP PENGERTIAN dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

(Markus 12: 33)

Tidak boleh beriman atas dasar kasih begitu sahaja, tetapi mesti juga menggunakan akal fikiran sepenuhnya. Barulah tahu yang mana betul yang mana salah.

Kita juga diajar:

“Allah adalah Allah yang suka akan ketertiban, bukan kekeliruan”.

(Korintus 1 14:33)

Doktrin triniti ini amat mengelirukan, bukan golongan bawahan sahaja tetapi juga golongan atasan agama Kristian sedangkan Tuhan sudah berkata yang Dia tidak suka akan kekeliruan. Ini menunjukkan doktrin triniti ada masalah.

“Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahsia yang tidak akan tersingkap.”

(Markus 4: 22)

Malangnya misteri, kebenaran dan logik triniti masih tidak dapat dihuraikan dan terus menjadi rahsia. Percaya saja, tak perlu difikir-fikir- kata mereka.

Dijawab pula oleh pendokong-pendokong Triniti, “Bukankah Tuhan itu Maha Hebat. Dia terlalu hebat hingga tidak mampu difikirkan dan dihuraikan oleh otak manusia. Kalau dia boleh difikir-fikirkan, maka itu bukan Tuhan namanya. Oleh sebab itu, percaya sajalah triniti dan anda akan selamat” Mereka berselindung di sebalik misteri dan keghaiban.

Memang benar, mustahil kita dapat memikirkan zat Tuhan tetapi kita boleh memikirkan apakah sifat-sifat yang layak dan sifat-sifat yang tak layak bagi Tuhan. Mustahil Tuhan diberanakkan. Mustahil Tuhan kalah bergusti dengan manusia. Mustahil Tuhan menyesal. Mustahil Tuhan tidak tahu apa akan terjadi pada masa depan. Mustahil Tuhan menunggang Kerub yang digambarkan sebagai anak-anak gadis tidak berpakaian. (* Semua penyataan ini ada dalam Bible. Dibahaskan dalam tajuk “Benarkah Ini Tuhan” di belakang nanti).

Juga agak menghairankan, mengapa mesti disebut secara berurutan ,”Dengan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”? Kalau ketiga-tiganya sama setara, sebut yang mana dahulu pun tak ada masalah. Mengapa ragu-ragu untuk menyebutkan: ‘Dengan nama Roh Kudus, Jesus dan Bapa” atau “Dengan nama Jesus, Roh Kudus dan Bapa.”

Hairan lagi. Kalau ketiga-tiganya peribadi yang sama, mengapa tidak disebutkan seorang saja? Bukankah salah seorang daripada Bapa, Jesus dan Roh Kudus adalah 100% Tuhan, merangkumi ketiga-tiganya sekali? Sepatutnya cukuplah kalau disebutkan: “Dengan nama Roh Kudus” sahaja atau “Dengan nama Bapa” sahaja.

“Tak seorangpun dapat mengabdikan dirinya kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.”

(Matius 6: 24)

Kalau benar ketiga-tiganya setara, kasih kita mestilah sama banyak kepada ketiga-tiganya. Mengapa Jesus yang lebih banyak disebut-sebut dan diagungkan sedangkan Roh Kudus sesekali sahaja? Mengapa Jesus yang dilebihkan?

 

Bible Telah Diubah

Dalam diam-diam, golongan Trinitari berusaha juga untuk menunjukkan yang fahaman triniti disokong oleh Bible, khususnya Perjanjian Baru. Berikut adalah ubahsuai yang mereka lakukan.

“Pergilah kepada semua bangsa di seluruh dunia dan jadikanlah mereka pengikutku. Baptiskanlah mereka dengan menyebut nama Bapa, Anak, dan Roh Suci.”

(Matius 28: 19)

Ayat asalnya berbunyi:

“Baptistkanlah mereka dengan menyebut namaku.”

“Semua, kecuali sarjana-sarjana yang paling konservatif, bersetuju bahawa sekurang-kurangnya bahagian akhir perintah tersebut (iaitu Bapa, Anak dan Roh Suci) telah ditambah kemudian. Formula ini tidak dijumpai di mana-manapun dalam Perjanjian Baru, dan dengan merujuk kepada bukti yang ada kita dapati bahawa Gereja pada zaman awal tidak membaptiskan orang menggunakan perkataan-perkataan ini - pembaptisan dilakukan atas nama Jesus sahaja.”

(“For Christ’s Sake”, Tom Harpur, m.s. 103)

“Telah dibahaskan bahawa ayat asal berbunyi “membaptiskan mereka atas namaku”, yang kemudiannya ditokok supaya selari dengan dogma yang dipegang. Malahan, pandangan utama yang diutarakan oleh sarjana-sarjana Kristian yang kritikal dan Unitari pada abad ke sembilan belas telah menyatakan pendirian sarjana-sarjana utama sehingga tahun 1919, semasa ulasan Peake mula-mula diterbitkan: ‘Pada zaman awal, Gereja tidak mengamalkan arahan sejagat ini, kalau pun mereka tahu mengenainya. Perintah pembaptisan atas tiga nama adalah penambahan terkemudian kepada doktrin'”

(“For Christ’s Sake”, Tom Harpur, m.s. 103)

Ini disahkan di dalam “Peake’s Commentary on the Bible” yang menjadi rujukan wajib pelajar-pelajar Bible:

Misi ini diterangkan menggunakan bahasa gereja dan kebanyakan pengulas was-was sama ada formula Trinitari adalah asli dalam Gospel Matius ini, memandangkan ia tidak ditemui di tempat-tempat lain dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Baru menceritakan bahawa pembaptisan dilakukan atas nama Tuhan Jesus (contohnya Kisah Rasul-rasul 2:38, 8:16 dan lain-lain).

Apa kata Peter/ Petrus, salah seorang hawari Jesus dalam Perjanjian Baru:

“Petrus menjawab, “Hendaklah setiap orang di kalangan saudara bertaubat daripada dosa, lalu DIBAPTIS DENGAN NAMA JESUS KRISTUS, supaya dosa saudara-saudara diampunkan…”

(Kisah Rasul-rasul 2:38)

Takkanlah Petrus yang berjawatan hawari Jesus sengaja membaptis dengan nama Jesus sahaja kalau benar Jesus mengajarnya membaptist dengan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus!

Ada lagi yang mereka ubah dalam Perjanjian Baru untuk menegakkan fahaman triniti tetapi berjaya dikesan.

“Saksi-saksi di syurga ialah Bapa, Firman (Jesus juga dipanggil Firman) dan Roh Suci – ketiga-tiganya adalah satu”

(Yohanes 5:7)

Setelah zaman-berzaman umat Kristian mengimani ayat ini, tiba-tiba hampir semua versi terbaru Bible seperti The New Revised Standard Version, The New American Standard Bible, New English Bible, Philips Modern English Bible dan sebagainya membuang ayat ini. Kenapa? Kerana ayat-ayat ini adalah penambahan kemudian untuk menguatkan doktrin triniti. Akhirnya mereka sendiri membuang ayat ini.

Teks mengenai saksi di syurga tidak terdapat di dalam mana-mana manuskrip Greek yang ditulis sebelum abad ke lima belas. Ia tidak dipetik oleh mana-mana penulis eklesiastikal, tidak juga oleh bapa-bapa Latin yang awal walaupun ketika membincangkan tajuk-tajuk yang memerlukan mereka merujuk kepada autoriti ayat tersebut. Oleh itu, terbukti bahawa AYAT INI ADALAH PALSU.

(Benjamin Wilson dalam “Emphatic Diaglot”)

Teks mengenai tiga saksi di syurga di dalam Perjanjian Baru adalah tidak tulen.

(“The Interpreter’s Dictionary of the Bible”, Vol. 4, m.s. 711, Abingdon Press)

Yohanes 1 5:7 KJV berbunyi : ‘Saksi-saksi di syurga ialah Bapa, Firman, dan Roh Suci – ketiga-tiganya merupakan satu’, tetapi INI ADALAH SISIPAN yang tidak dapat dikesan sebelum penghujung abad keempat.

(“The Interpreter’s Dictionary of the Bible”, Jilid. 4, m.s. 871, Abingdon Press)

“Di dalam Textus Receptus (di dalam KJV), 1 Yohanes 5:7, kelihatan seolah-olah Yohanes telah sampai kepada doktrin triniti dalam bentuk yang jelas (Bapa, Firman dan Roh Suci), tetapi teks ini jelas sekali adalah suatu sisipan kerana ia TIDAK TERKANDUNG DALAM MANUSKRIP GREEK YANG ASAL.”

(“The Eerdmans Bible Dictionary”, disunting oleh A.C. Myers, m.s. 1020)

“Tiga saksi tersebut telah dimasukkan ke dalam Perjanjian bahasa Greek dengan cermat oleh Erasmus, melalui penipuan penyunting-penyunting Komplutensia; melalui penipuan atau kesilapan tipografi, melalui pemalsuan oleh Robert Stephens, dan salah faham oleh Theodore Beza.”

(“Decline and Fall of the Roman Empire” Gibbon, m.s. 418)

Seorang sarjana Britain, iaitu Richard Porson, yang sezaman dengan Edward Gibbon mempertahankan penemuannya; beliau juga telah menerbitkan bukti kukuh yang tidak dapat dipertikaikan bahawa Yohanes 1 5:7 ditambah buat pertama kalinya ke dalam Bible oleh Gereja pada tahun 400 Masihi.

(“Secrets of Mount Sinai”, James Bently, m.s. 30-33).

“Sisipan TIGA SAKSI tidak dicetak di dalam RSV, dan ini adalah tindakan yang tepat. Ia memetik saksi di syurga Bapa, logos dan Roh Suci, tetapi tidak pernah digunakan oleh golongan Trinitari semasa kontroversi awal. Tiada manuskrip Greek yang sahih yang mengandungi ayat ini. Ia mula-mula muncul dalam teks Latin pada penghujung abad ke-14, kemudiannya di dalam Vulgate dan akhir sekali di dalam PB Erasmus.”

(Peake’s Commentary on the Bible)

. Malangnya, sehingga ke hari ini Bible yang dimiliki oleh kebanyakan penganut Kristian, iaitu Bible King James yang popular, tidak teragak-agak memasukkan ayat ini sebagai kata-kata Tuhan yang telah diilhamkan. Tiada sebarang nota kaki dibuat. Mereka mahu dunia percaya bahawa itu memang datang daripada Tuhan.

Melakukannya dalam keadaan orang tidak tahu, itu perkara biasa. Tapi melakukannya dalam keadaan orang ramai sudah tahu perkara sebenar, memang menghairankan.

“Triniti Tuhan ditakrifkan oleh Gereja sebagai kepercayaan bahawa Tuhan adalah tiga peribadi yang wujud dalam satu sifat. Kepercayaan ini hanya muncul pada abad keempat dan kelima selepas Masihi, dan oleh itu, bukanlah kepercayaan biblikal yang jelas dan formal.”

(“The Dictionary of the Bible”, J.L. McKenzie, m.s. 899

Bible Sebagai Bukti

“Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasnya (Jesus). Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah anak-Ku yang Ku-kasihi, kepadamulah Aku berkenan.”

(Lukas. 3:22)

Renung-renungkan. Roh Kudus sedang turun dari langit dan ketika itu Roh Kudus mengubah dirinya menjadi burung merpati. Jesus pula sedang berada di bumi manakala Bapa yang berada di syurga sedang berkata-kata. Anda melihat ketiga-tiga individu di atas sebagai tiga individu atau satu individu? Tiga badan atau satu badan? Tiga tempat atau satu tempat? Tiga peranan atau satu peranan?

Sekiranya Jesus sudah 100% Tuhan, mengapa dia perlu wahyu daripada Bapa di syurga? Mengapa mesti Roh Kudus menghantar wahyu? Sepatutnya tak payahlah dihantar-hantar lagi kerana wahyu itu datangnya daripada Jesus sendiri!

“Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia (iaitu Jesus), ia akan diampuni; tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.”

(Markus 12:36)

Sesiapa yang menentang Jesus, orang itu boleh diampunkan. Tetapi sesiapa yang menentang Roh Kudus, tidak akan diampuni. Kan jelas ini membuktikan Jesus dan Roh Kudus bukan peribadi yang satu tetapi berlainan. Jesus bukan 100% Roh Kudus dan Roh Kudus bukan 100% Jesus.

“Aku (Tuhan) di dalam mereka (sahabat-sahabat Jesus) itu, dan engkau (Jesus) di dalam Aku, supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan.”

(Yahya 17:23)

Nampaknya Tuhan juga berada di dalam tubuh 12 orang ,sahabat-sahabat Jesus. Sekarang bukan lagi 3 dalam 1 tetapi sudah menjadi 15 dalam 1. Mengapa sahabat-sahabat Jesus juga tidak dianggap Tuhan?

“Supaya SEMUA MENJADI SATU, seperti Bapa di dalam aku dan aku di dalam Bapa dan supaya mereka (murid-murid Jesus) menjadi satu di dalam kita, biarlah dunia percaya yang Bapa telah mengutus aku.”

(Yohanes 17:21)

Ayat ini menunjukkan yang murid-murid Jesus pun bersatu dalam diri Tuhan, bukan Jesus sahaja. Mengapa murid-muridnya tidak dianggap Tuhan atau Anak Tuhan juga? Di sini Jesus juga mengakui Bapa (Tuhan) yang mengutusnya. Dia hanyalah utusan Tuhan.

“Atau mungkinkah kamu tidak tahu bahawa seseorang yang bersetubuh dengan pelacur, MENJADI SATU dengan pelacur itu? Di dalam Alkitab tertulis dengan jelas, “Kedua-duanya menjadi satu”. Tetapi seseorang yang menyatukan diri dengan Tuhan, ROH ORANG ITU MENJADI SATU DENGAN ROH TUHAN.”

(Korintus 1 6:15-17)

Berdasarkan ayat ini, adakah “satu” itu bermaksud betul-betul bersatu sebagai satu peribadi? Pasti tidak.

“Inilah kehidupan yang kekal, iaitu supaya mereka mengenal Engkau Tuhan Yang Esa (Satu), dan Jesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu.”

(Yahya 17:3)

Bukankah sepatutnya mengatakan: “…supaya mereka mengenal Aku (Jesus) Tuhan Yang Esa, iaitu Aku yang tidak boleh disuruh oleh sesiapa kerana Aku Tuhan.”

Sokongan The Last Testament- Al Quran:

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, …”

(Surah Al-Baqarah: 163)

Cubaan Dari Segi Logik

Masa ada tiga iaitu masa lalu, masa kini dan masa akan datang. Isi keluarga ada tiga iaitu bapa, ibu dan anak. Manusia ada tiga eleman iaitu pepejal, gas dan cecair. Udara ada tiga atom iaitu hidrogen, oksigen dan nitrogen. Air ada tiga unsur iaitu pepejal, cecair dan wap. Segitiga ada tiga sisi tetapi tetap satu segitiga.

Permainan ini kita ketepikan dengan mudah. Manusia ada dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki dan lain-lain yang bersifat sepasang. Hari ada dua iaitu siang dan malam. Tempat pembalasan ada dua iaitu syurga ataupun neraka. Setiap tangan yang sihat ada lima jari. Setiap segiempat ada empat bucu tetapi masih segiempat yang satu. Manusia ada satu nyawa, satu otak, satu jantung. Setahun ada empat musim. Seminggu ada tujuh hari dan sebagainya.

Mereka sesuaikan pula dengan kitab Bible. Jesus dimatikan 3 hari. “Kudus” disebut 3 kali (Yesaya 6:3). Tuhan ada 3 oknum iaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Nabi Ibrahim dikunjungi 3 malaikat (Kejadian bab 18) dan banyak lagi.

Jawapan kita, Jesus dimatikan 2 malam bukan tiga. Sahabat-sahabat Jesus 12 orang. “Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian)- hanya dua iaitu langit dan bumi. Ketika disalib Jesus hanya menjerit “Tuhanku, Tuhanku” dua kali, Gospel-Gospel ada empat dan banyak lagi.

Ringkasnya, hujah-hujah logik seperti itu tidak akan membuktikan triniti.

Pembelaan-pembelaan lain ke atas pegangan Kristian insyaallah akan kita bincangkan dalam buku yang kedua nanti.


Kesimpulan

Tidak boleh beriman secara “buta” atau atas dasar “kasih” sahaja, tetapi mesti menggunakan kekuatan akal fikiran juga untuk menentukan baik buruknya, betul salahnya. Inilah pesan Bible dan juga Jesus.

Sebelum abad ke empat, umat Kristian yang menyembah Bapa sahaja sebagai Tuhan (iaitu para Unitarian) cukup banyak. Sehingga ke hari ini masih ada Kristian Unitari di mana-mana.

Dalam usaha untuk membuktikan triniti, ada pihak-pihak yang sanggup mengubah ayat-ayat Bible menjadikan kitab Bible tidak suci lagi.