Archive for the ‘debat agama’ Category

Saksi Yehuwa bukanlah saksi Kristus

Pendahuluan

Ketika, saya tinggal di Jakarta, suatu hari saya mendengar ketukan pintu rumah. Dan ternyata yang datang berkunjung adalah dua orang wanita, yang tersenyum ramah, serta mengatakan ingin bersaksi tentang kebaikan Allah. Tentu saja saya menyambut baik kedatangan mereka. Mereka memperkenalkan diri mereka, bahwa mereka adalah anggota Saksi Yehova. Dan seperti biasa yang pernah saya dengar, mereka mulai mempertanyakan keadaan dunia ini yang terlihat menyedihkan dengan begitu banyak penderitaan dan kejahatan. Mereka telah mempersiapkan brosur yang berisi kegiatan dan pengajaran dari Saksi Yehovah, termasuk mendiskusikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Ini sungguh menyedihkan, namun di dalam hati, saya sungguh memuji kesungguhan hati mereka untuk mewartakan ajaran-ajaran yang dipercaya oleh kelompok Saksi Yehovah ini. Di sisi yang lain, saya merasa bahwa pewartaan yang tidak mewartakan kebenaran secara penuh, atau malah bertentangan dengan kebenaran, bukanlah pewartaan Kabar Gembira yang sejati. Mewartakan dimensi manusia dari Kristus tanpa mewartakan dimensi Ilahi-Nya adalah tidak lengkap dan bertentangan dengan kebenaran. Hal ini juga diperparah dengan ajaran lain yang menyimpang dari akal budi, prinsip keadilan, dan Alkitab, seperti ajaran tentang: tujuan akhir manusia, konsep antropologi yang salah, dll. Dalam tulisan ini, kita akan melihat sejarah berdirinya sekte ini, pengajaran mereka, dan memaparkan bahwa beberapa prinsip ajaran mereka adalah tidak benar.

Tentang Saksi Yehova

Pada tahun 1872, Charles Taze Russell (1852-1916) mendirikan satu sekte yang dinamakan Saksi Yehova atau Saksi Yehuwa (Jehovah’s witnesses). Charles T. Russell mempunyai latar belakang aliran Protestan (Congregationalism), dan kemudian dia mengikuti aliran Adventisme (Adventism), sebelum akhirnya mendirikan the Watchtower Bible and Tract Society, yang mengontrol perkembangan dan pengajaran dari Saksi Yehova, yang berpusat di Brooklyn, USA. Dari latar belakang ini, maka dapat dimengerti kalau beberapa doktrin yang dianutnya adalah dari Protestan dan juga dari Adventisme.[1] Beberapa doktrin Protestan yang dianut oleh Saksi Yehova adalah: penolakan terhadap beberapa pengajaran Katolik, seperti Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat, Api Penyucian, Perantaraan Para Kudus, dll. Silakan melihat beberapa artikel bagaimana mempertanggung-jawabkan iman Katolik di topik apologetik (silakan klik) dan di beberapa artikel dan arsip tanya jawab apologetik Kristen (silakan klik). Pengaruh dari Adventisme  dapat terlihat dari beberapa ajaran Saksi Yehuwa, seperti akhir jaman, Roh Kudus bukan pribadi, Yesus bukan Tuhan namun Malaikat Mikael – yang lebih rendah dari Allah, dll. Mari sekarang kita membahas beberapa pengajaran pokok dari Saksi Yehuwa yang sebenarnya bertentangan dengan Kitab Suci, akal budi, dan prinsip keadilan.

  1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.
  2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menempatkan Pencipta menjadi ciptaan.
  3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.
  4. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.
  5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.
  6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.
  7. Pengajaran bahwa tidak ada neraka yang kekal menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.

Salah satu pengajaran dari Saksi Yehuwa yang sungguh berbeda dibandingkan dengan pengajaran agama Kristen adalah mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Bagi mereka Tuhan adalah Yehuwa, dan bukan Trinitas – Satu Tuhan dalam tiga pribadi. Kalau ditelusuri, sebenarnya ajaran ini telah diajarkan oleh Arius, yang pada tahun 318 mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Dan para Bapa Gereja akhirnya dapat memusnahkan ajaran sesat ini pada tahun 325 melalui konsili Nicea, walaupun pengaruh ajaran Arius masih terus berlangsung sampai kurang lebih abad ke- 5. Di dalam kunjungan mereka ke rumah-rumah, biasanya, pada awalnya, mereka tidak terlalu membahas tentang identitas Yesus yang bukan Tuhan (dalam pengertian pribadi ke-2 dalam Trinitas). Mereka akan menceritakan tentang Yesus yang sungguh-sungguh memberikan jalan dan pengajaran yang begitu luar biasa kepada manusia, bahkan kadang-kadang mereka mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Namun, kalau ditanya lebih lanjut, apakah Yesus adalah Allah dalam pengertian Trinitas, Satu Allah dalam tiga pribadi, di mana Yesus adalah pribadi yang ke-dua, maka mereka akan mengatakan tidak. Saksi-saksi Yehuwa memberitakan setengah kebenaran, yaitu kemanusiaan Yesus, tanpa memberitakan kebenaran yang lain, yaitu ke-Allahan Yesus. Di dalam sejarah kekristenan, ajaran sesat yang berhubungan dengan kristologi, senantiasa menekankan sisi yang satu tanpa melihat sisi yang lain.[2] Untuk menjawab keberatan mereka tentang ke-Allah Yesus, maka silakan untuk membaca beberapa artikel tentang Kristologi yang telah ditulis oleh katolisitas.org:

Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia. Dan Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.

Berikut ini adalah beberapa pembuktian dari tulisan di atas, yang membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Pernyataan Yesus ini dilakukan dengan berbagai cara dan dalam berbagai kesempatan:

  1. Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
  2. Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
  3. Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
  4. Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi, sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
  5. Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner, mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
  6. Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
  7. Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
  8. Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
  9. Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
  10. Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
  11. Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
    • Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
    • Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
    • Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
    • Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
    • Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
    • Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.
    • Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    • Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
  12. Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
  13. Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
  14. Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
  15. Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
  16. Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menjadikan Pencipta menjadi seorang ciptaan.

Kalau bukan Tuhan, bagaimana Saksi Yehuwa mempercayai Yesus? Mereka mempercayai bahwa Yesus, Adam ke-dua, adalah penghulu malaikat Mikael.[3] Ajaran ini kalau ditelurusi merupakan suatu modifikasi dari ajaran agama gereja Mormon, yang percaya bahwa malaikat Mikael adalah Adam[4] Kalau kita dapat membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ajaran bahwa Yesus adalah malaikat Mikael adalah tidak mempunyai dasar. Oleh karena itu, silakan melihat beberapa artikel Kristologi dan argumentasi di atas. Kalau Yesus adalah Tuhan, maka tidak mungkin dia berhenti menjadi Tuhan, dan kemudian menjadi malaikat, mahluk yang diciptakan.

3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.

Salah satu pengaruh dari Adventisme kepada Saksi -saksi Yehuwa adalah meramalkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan akhir dunia. Mari kita melihat beberapa ramalan yang diberikan, yang saya ambil dari site Catholic Answer (silakan klik):

  • 1889: “Peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa (Why 6:14), dimana akan berakhir di tahun 1914 ..” (Studies, Vol. 2, 1908 edition, 101) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1891: “Dengan berakhirnya tahun 1914, apa yang Tuhan sebut Babilonia, dan apa yang orang-orang sebut Chistendom, akan berlalu, seperti yang telah ditunjukkan dalam nubuat” (Studies, Vol. 3, 153)
  • 1894: “Akhir dari tahun 1914 bukanlah hari untuk permulaan, namun untuk berakhirnya masa kesukaran” (WT Reprints, 1-1-1894, 1605 and 1677)
  • 1897: “Tuhan kita sekarang hadir, sejak Oktober 1874” (Studies, Vol. 4, 1897 edition, 621)
  • 1916: “Enam masa 1000 tahun yang bermula dari Adam telah berakhir, dan masa hari ke tujuh, 1000 tahun dari pemerintahan Kristus telah dimulai di tahun 1873” (Studies, Vol. 2, p. 2 of foreword)
  • 1917: “Alkitab … membuktikan bahwa kedatangan Kristus ke dua telah terjadi di musim gugur 1874” (Studies, Vol. 7, 68)
  • 1918: “Oleh karena itu, dengan penuh keyakinan kita boleh berharap bahwa 1925 akan menandai kembalinya Abraham, Isak, Yakub, dan nabi-nabi yang setia dari masa dulu” (Millions Now Living Will Never Die, 89) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1922: “Tahun 1925 adalah tahun yang lebih diindikasikan oleh Alkitab secara lebih nyata daripada tahun 1914” (WT, 9-1-1922, 262).
  • 1923: “Tahun 1925 secara pasti telah ditegaskan di dalam Alkitab. Seperti kepada nabi Nuh, umat Kristen sekarang mempunyai sesuatu yang lebih untuk mendasarkan imannya daripada yang dipunyai oleh nabi Nuh ketika dia mendasarkan imannya akan kedatangan banjir besar” (WT, 4-1-1923, 106).
  • 1925: “Tahun 1925 telah tiba…. umat kristen seharusnya tidak terlalu kuatir tentang apa yang mungkin terjadi tahun ini” (WT, 1-1-1925, 3).
  • 1931: “Ada bukti kekecewaan dari anggota Yehuwa di dunia tentang tanggal [prediksi] 1914, 1918 dan 1925, dimana kekecewaan hanya sementara. Kemudian para pengikut belajar bahwa tanggal-tanggal tersebut telah ditetapkan secara pasti di dalam Alkitab; dan mereka juga telah belajar untuk tidak menentukan tanggal yang pasti….” (Vindication, 388, 389). [catatan: nubuat akhir jaman yang diramalkan tahun 1914, 1918, 1925 tidaklah terbukti]
  • 1939: “Bencana dari Armagedon sudah dekat” (Salvation, 361).
  • 1941: “Armagedon pasti telah dekat … segera… dalam beberapa tahun” (Children, 10).
  • 1946: “Armagedon… akan terjadi sebelum 1972” (They Have Found a Faith, 44). [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1966: “Enam ribu tahun dari saat manusia diciptakan akan berakhir di tahun 1975, dan periode ke tujuh dari seribu tahun dari sejarah manusia akan dimulai di tahun 1975” (Life Everlasting in Freedom of the Sons of God, 29).
  • 1968: “Akhir dari enam ribu tahun dari sejarah manusia di musim gugur tahun 1975 bukanlah [bersifat] sementara, namun diterima sebagai suatu tanggal yang pasti” (WT, 1-1-1968, 271). [catatan: Hal ini tidak terbukti]

Dari sini, kita melihat bahwa ramalan-ramalan yang dilakukan oleh Saksi Yehuwa tidaklah terbukti, seperti ramalan-ramalan tentang akhir dunia dan armagedon. Dan kita tahu bahwa seorang nabi yang perkataannya tidak terbukti bukanlah nabi yang benar, seperti yang dikatakan di dalam Kitab Ulangan “apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ul 18:22; lihat juga Yer 23:16; 28:9). Dan ramalan tentang akhir dunia yang dibuat oleh Saksi Yehuwa tidak terjadi, bahkan bukan hanya gagal sekali, namun berkali-kali. Kalau Saksi Yehuwa membuat kesalahan doktrin tentang akhir jaman, maka pertanyaannya, bagaimana kita dapat percaya akan doktrin-doktrin yang lain?

5. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.

Ajaran pokok yang lain dari Saksi Yehuwa adalah hanya 144,000 orang yang dapat masuk dalam Kerajaan Sorga.[

5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.

Saksi Yehuwa mengajarkan bahwa hanya 144,000 yang diurapi[

6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.

Saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa manusia tidak bersifat spiritual dan kekal, namun jiwa manusia adalah badan. Oleh karena itu, pada waktu seseorang meninggal, maka jiwanya juga lenyap. Dan pada akhir zaman, maka jiwa manusia diciptakan kembali dari sesuatu yang tidak ada untuk masuk ke Sorga maupun kebahagiaan di dunia. Kita dapat membuktikan bahwa jiwa manusia adalah kekal berdasarkan filosofi dan juga Alkitab.

  1. Kalau kita mengamati, maka ada begitu banyak aktivitas manusia yang dilakukan bukan sebatas aktivitas tubuh atau material, seperti: berfikir, menginginkan, melakukan pemeriksaan batin, menyadari keberadaannya, keinginan bebas, dll. Semua ini bukanlah aktivitas tubuh, namun lebih bersifat spiritual. Sesuatu yang bersifat spiritual (bukan material) tidak mungkin dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat material, namun harus dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat spiritual.Sesuatu yang bersifat material, seperti tubuh kita, terdiri dari bagian (part). Dan pada waktu mati, maka bagian-bagian itu menjadi terpisah dan terurai. Namun, sesuatu yang bersifat spiritual (seperti jiwa kita) tidak mungkin mati, karena sesuatu yang spiritual tidak mempunyai bagian.  Oleh karena itu, sesuatu yang bersifat spiritual menjadi kekal dan tidak mungkin mati.
  2. Alkitab juga menyediakan bukti-bukti bahwa jiwa manusia adalah bersifat kekal dan tidak mungkin mati.[7]
    • Kej 1:27 menceritakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah. Karena Allah adalah murni bersifat spiritual (lih. Jn 4:24), maka pasti ada elemen dari manusia yang bersifat spiritual.
    • 1 Sam 28 menceritakan bagaimana Samuel yang telah meninggal menampakkan diri kepada Saul. Ini berarti roh Samuel tidak musnah, namun masih tetap hidup.
    • Mt 10:28 menegaskan bahwa tentang jiwa yang kekal dan badan yang bersifat sementara, karena Yesus mengatakan bahwa tidak perlu kuatir kepada manusia yang dapat membunuh tubuh, namun bukan jiwa.
    • Mt 17:1-8 menggambarkan peristiwa transfigurasi, dimana Yesus bercakap-cakap dengan Musa dan Elia. Karena Musa diceritakan telah meninggal (lih. Ul 34:5), maka kematian tidak membuat Musa menghilang.
    • Lk 16 menceritakan bahwa Abraham, Lazarus dan orang kaya telah meninggal, namun diceritakan masih hidup di dunia yang lain.
    • Why 6:9-10 menyatakan tentang jiwa-jiwa yang telah dibunuh, namun masih hidup dan bercakap-cakap dengan Penguasa yang Kudus.

7. Pengajaran bahwa tidak adanya neraka menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

Selain jiwa manusia tidak bersifat kekal, Saksi-saksi Yehuwa juga percaya bahwa tidak ada neraka kekal. Kalau demikian, apa yang terjadi dengan jiwa-jiwa yang jahat maupun setan? Saksi-saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa-jiwa tersebut dimusnahkan dan tidak ada lagi. Hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan dan bertentangan dengan Alkitab dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tuhan telah menciptakan jiwa manusia maupun malaikat, yang bersifat kekal, seperti yang telah di bahas pada point di atas. Kalau Tuhan telah menciptakan jiwa yang kekal dan kemudian memusnahkannya dan membuatnya tidak ada, maka sebenarnya Tuhan mengkontradiksi rencana-Nya sendiri. Karena Tuhan tidak mungkin mengkontradiksi Diri-Nya sendiri, maka tidak mungkin jiwa yang bersifat kekal dimusnahkan dan menjadi tidak ada.
  2. Kita juga melihat bahwa ajaran tidak ada neraka sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab.
    • Mt 3:12 mengatakan “Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (lih. juga Lk 3:17). Api yang tak terpadamkan ini mengacu kepada neraka yang abadi.
    • Mk 9:43 menegaskan “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan” (lih. juga Mt 18:8). Ayat ini juga mengacu kepada neraka, dimana lebih baik kita kehilangan semua hal yang bersifats sementara daripada mendapatkan hukuman abadi di neraka dan dimasukkan ke dalam api yang tak terpadamkan.
    • Mt 25:46 mengatakan “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” Dari ayat ini, kita menyadari bahwa bagi mereka yang benar akan masuk dalam hidup yang kekal, sebaliknya orang-orang yang tidak benar akan mendapatkan siksa abadi di neraka.

Dari ekpresi yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut di atas, seperti: api yang tak terpadamkan, siksaan yang kekal, maka kita mengetahui bahwa neraka adalah sesuatu yang nyata. Dan kenyataan ini bukan hanya sementara, namun berlangsung untuk selamanya. Kalau di ayat Mt 25:46 dibandingkan antara kehidupan kekal dan siksaan kekal, maka akan menjadi tidak konsisten kalau kita mau menerima konsep kehidupan kekal namun tidak mau menerima adanya konsep siksaan kekal. Kalau seseorang percaya akan kehidupan kekal dari Alkitab, maka seseorang juga harus percaya akan siksaan kekal, yang juga diwahyukan oleh Allah kepada manusia.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka banyak ajaran dari Saksi-saksi Yehuwa yang bertentangan dengan Alkitab, akal budi, dan bahkan bertentangan dengan keadilan. Memberitakan Kristus yang bukan Tuhan, bukanlah ajaran Kristen, karena kekristenan mendasarkan iman, pengharapan dan kasih pada Kristus yang adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia. Kalau Kristus bukan Tuhan dan ‘hanya’ malaikat Mikael, maka sia-sialah pengharapan kita, karena kita hanya berharap pada ciptaan dan bukan pada Pencipta. Kalau kita tidak mempunyai tujuan ke Sorga dan bersatu dengan Tuhan untuk selama-lamanya di dalam Kerajaan Sorga, maka sia-sialah semua yang dilakukan di dunia ini. Kalau tidak ada pengadilan terakhir dan tidak ada neraka, maka keadilan yang seadil-adilnya tidak dapat ditegakkan. Kalau ada yang mau kita pelajari dari Saksi Yehuwa, maka kita tidak boleh percaya akan pengajaran mereka, namun kita harus meniru semangat mereka untuk memberitakan Injil. Bahkan pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), Mother Angelica mengatakan “Berikan kepadaku 10 orang Katolik, yang mempunyai semangat seperti Saksi Yehuwa, dan aku dapat merubah dunia.” Mari, kita semua, yang menjadi umat Gereja Katolik – Gereja mempunyai kepenuhan kebenaran -, kita harus dengan giat dan penuh semangat memberitakan kebenaran Kristus dan Gereja-Nya. Semoga Roh Kudus memberikan kebijaksanaan kepada kita semua, agar kita dapat mempertahankan kebenaran dan bertumbuh terus di dalam kebenaran.

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39).

CATATAN KAKI:

  1. Adventisme mengacu kepada gerakan keagamaan yang sangat kuat di sekitar tahun 1800-an, seperti the Mormons, the Seventh Day Adventists / Tujuh Hari Adven []
  2. Ajaran yang menolak kemanusiaan Yesus: Docetism, Gnosticism, Manichaeism, Apollinarism, Monophisitism. Ajaran yang menolak ke-Allahan Yesus: Adoptionism, Arianism. []
  3. lih. Aid to Bible Understanding, p. 1152, yang mengatakan “Michael the Archangel, the first creation of Jehovah, before He came to earth and returned to the identity of Michael after his ressurection.“; lihat juga United in Worship, p. 29 yang mengatakan “Michael the Archangel is no other than the only begotten son of God, now Jesus Christ. That Jehovah directly created only one thing, Michael the arch angel and that Michael created all other things.“ []
  4. Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 3, mengambil sumber dari Brigham Young, Journal of Discourse []
  5. Reasoning from the Scriptures (Reasoning) [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1985], 166 []
  6. Insight on the Scriptures (Insight), 2 vols. [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1988], 786 []
  7. Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 14-15 []

Saya ambil perkataan  penghibur sebagai tajuk diatas untuk dialog. Penghibur perlu masukkan semua fakta dari kitabnya supaya dapat dibidas. Terang-terang kristian menganggap dakwaan penghibur (majoriti sbb saya yakin bukan semua umat islam mentafsir maksud yang sama) sebagai omong kosong dari sumber yang salah.

Sumber: Kosmo Online

82 anggota polis cedera


SEJUMLAH penunjuk perasaan bergelut dengan anggota-anggota polis di Belfast, Ireland Utara kelmarin.


 

BELFAST – Para pemimpin politik dan ketua keselamatan wilayah Ireland Utara semalam mengecam militan-militan nasionalis Ireland kerana mencederakan 82 anggota polis dalam rusuhan selama dua malam sejak kelmarin yang tercetus semasa satu perarakan tahunan yang dilakukan oleh penduduk Kristian bermazhab Protestan.

Ramai anggota polis berkenaan cedera ringan tetapi dua lagi masih dirawat di hospital iaitu seorang anggota polis yang luka di dada dan tangan akibat terkena tembakan senapang patah.

Seorang anggota polis wanita cedera selepas kepalanya dibaling seketul batu dari atas bumbung sebuah kedai berhampiran.

Rusuhan tersebut melibatkan golongan pekerja bermazhab Katholik di bandar ini dan di beberapa bandar lain.

Insiden itu berlaku sebelum puluhan ribu anggota sebuah kumpulan Protestan, Persaudaraan Order Jingga berarak di 18 buah lokasi di serata Ireland Utara dalam satu perhimpunan tahunan bagi mempamerkan kekuatan komuniti mereka.

Ahli-ahli politik berkata, kumpulan perusuh itu yang dipengaruhi oleh pergerakan militan tempatan, Tentera Republik Ireland (IRA) enggan bertolak ansur untuk membenarkan perarakan tersebut diadakan.

Kumpulan perusuh itu kemudian bertindak menyerang anggota-anggota polis yang berkawal.

Pertelingkahan antara penduduk berfahaman Katholik dan Protestan di Ireland Utara berlaku sejak beberapa dekad lalu. – AP

Saya masih ingat perkataan itu. Atau setidak-tidaknya itu memang ada di hati sesetengah golongan ekstrimis. Golongan inilah yang menghuru-harakan bandar-bandar. Bom sana sini. Tetapi pada saya, ilmu agama islam yang berkata begitu sangat sedikit. Sangat menakutkan apabila ada orang cakap begitu. Memang begitukah pendirian masjid? Iaitu non muslim harus dilenyapkan dimuka bumi ini? Jika muslim takut yahudi, muslim pula telah menakutkan kristian.

Harap-harap di Malaysia tiada pelampau agama islam. Itu sangat menakutkan kami. Yesus berkata, kami akan disertainya sampai akhir zaman. Kami yakin kristian tetap ada sampai kedatangan Yesus yang kedua kali.

Luk 10:25  Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
  Luk 10:26  Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”
  Luk 10:27  Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
  Luk 10:28  Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
  Luk 10:29  Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
  Luk 10:30  Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
  Luk 10:31  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
  Luk 10:32  Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
  Luk 10:33  Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
  Luk 10:34  Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
  Luk 10:35  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
  Luk 10:36  Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
  Luk 10:37  Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Ulasan saya: Ini adalah pembacaan injil gereja katolik hari ini. Kotbah paderi @ (yang dinamakan homili dalam bahasa gereja katolik) sangat menarik. Menjelaskan satu-satu. Paderi memberi homili lebih kurang 15 minit dan semua umat mendengar penuh minat. Peristiwa itu masih relevan pada hari ini, kata paderi.

Saya teringat kisah-kisah benar tentang topik pembacaan. Dari katolik sendiri, dari umat protestant, dari agama non kristian juga. Saya teringat umat kristian sendiri yang tidak prihatin terhadap jiran atau sesiapa yang dijumpainya, saya teringat ada yang memilih-milih penjual semasa bercari sayur atau daging ayam di tamu, saya teringat seorang ibu muslim membelikan hadiah sempena kelahiran cahaya mata sahabat kristian, saya teringat yang sesama kristian sendiri tidak terfikir hal demikian. Hal yang lebih besar ialah, bagaimana jika umat islam berniaga, apakah umat kristian membeli? Atau jika umat kristian berniaga, apakah umat islam membeli? Di Sabah dan Sarawak tentu hal ini tidak sensitif tetapi di Semenanjung, agak sensitif.

Dalam konteks kenegaraan, bagaimana kalau sahabat kristian menjual produk fizikal atau digital secara online? Contoh: ebook informasi. Sahabat muslim belikah? Saya merasa kurang yakin. Petikan injil di atas boleh diajukan sebagai topik perbincangan. Renungan kristian mahupun umat islam. Lihatlah bagaimana orang samaria yang dianggap orang asing bagi kaum yahudi menunjukkan nilai-nilai kerohanian yang tinggi terhadap orang asing? Perbuatan begini sangat tinggi nilainya di syurga Allah (bukan kayangan ya?).

Sumber:

http://jesustriniti.blogspot.com/

PERIHAL TRINITI
 

Perihal Triniti

Disebut trinity (English) atau trinitas (Indonesia). Dalam Persidangan Nicea 325 M, gereja Trinitari (pendokong fahaman triniti) dengan sokongan pemerintah mengemukakan doktrin “homoousious” yang bererti Bapa, Anak (Jesus) dan Roh Kudus adalah “SETARA, SAMA ABADI & SAMA PENTING”. Lebih dikenali sebagai “3 dalam 1” dan “1 dalam 3”. Doktrin ini dikenali sebagai “Creed of Nicea”.

…kita menyembah satu tuhan di dalam Triniti dan Triniti adalah satu… kerana hanya terdapat satu orang daripada Bapa, satu lagi daripada Anak, dan satu lagi daripada Roh Suci, semuanya adalah satu… Tiada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan… ketiga-tiga orang sama abadi dan setara antara satu sama lain.

(Petikan “Athanasian Creed”).

Kemudian doktrin ini diperkukuhkan pada Sidang Constantinople pada tahun 381 Masehi. Trias pertama kali disebutkan pada tahun 180 oleh Theophilus dari Antiochia, namun ini bukanlah Trinitas sungguhpun ia telah diterjemahkan sebagai Trinitas oleh mereka yang berkepentingan.

Dikatakan Jesus 100% Tuhan. Adakah Bapa 100% Jesus? Adakah Roh Kudus 100% Bapa? Adakah Roh Kudus 100% Jesus?

Jawapan: __________________

Gereja-gereja Unitari (pendokong fahaman bahawa Bapa sahaja yang mesti disembah sebagai Tuhan) telah ditindas selepas itu dengan pelbagai kezaliman. Apa sahaja dokumen Bible dan Gospel yang masih ada pada mereka dirampas dan dimusnahkan, dengan harapan agar fahaman Unitari pupus.

Namun usaha golongan Unitari untuk mentauhidkan Allah (iaitu Bapa) dan mengekalkan ajaran Jesus tak kurang hebat. Apabila Bible/ Al Kitab dan logik dijadikan kayu ukuran, sentiasa sahaja golongan Unitari berjaya mematahkan hujah-hujah golongan Trinitari. Oleh kerana gereja Trinitari dan pemerintah tidak mampu lagi untuk membuktikan fahaman mereka menggunakan Bible ataupun logik, mereka memperkenalkan “beriman secara buta” atau “beriman secara misteri”.

Antara hujahnya, Tuhan itu tidak boleh difikirkan kerana tak akan sampai pemikiran manusia untuk memahami triniti, maka percaya sajalah, jangan disoal-soal. Ada juga mengatakan kononnya triniti atau tidak tak penting. Yang penting ialah mengasihi Tuhan Jesus dengan sepenuh hati, pasti akan masuk ke syurga. Pemerintah memaksa orang ramai untuk “beriman buta” atau “iman misteri”. Sesiapa yang berani mempersoalkannya dianggap sesat, diseksa ataupun dibunuh.

“Oleh yang demikian seseorang yang mahu diselamatkan mestilah mengimani triniti…

(Petikan “Athanasian Creed”).

Amaran Bible:

“Siapa yang ada telinga, hendaklah dia mendengar!”

(Matius 13: 43)

“Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

(Markus 4: 23)

“Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi.”

(Markus 8: 18)

Tidak boleh beriman secara buta sahaja, atau secara misteri sahaja. Kita mestilah mengambil tahu apa pandangan orang tentang agama kita, barulah kita tahu di mana betul salahnya. Tetapi kita sedia maklum:

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit saja yang terpilih.”

(Matius 22: 14)

Bolehkah beriman secara “buta’ atau secara ‘misteri’ tanpa perlu difikir-fikir lagi? Jesus memberikan jawapannya:

“Kasihilah Tuhan kamu… DENGAN SELURUH AKAL”

(Markus 12:30)

“Memang mengasihi Dia (Tuhan) dengan segenap hati dan DENGAN SEGENAP PENGERTIAN dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

(Markus 12: 33)

Tidak boleh beriman atas dasar kasih begitu sahaja, tetapi mesti juga menggunakan akal fikiran sepenuhnya. Barulah tahu yang mana betul yang mana salah.

Kita juga diajar:

“Allah adalah Allah yang suka akan ketertiban, bukan kekeliruan”.

(Korintus 1 14:33)

Doktrin triniti ini amat mengelirukan, bukan golongan bawahan sahaja tetapi juga golongan atasan agama Kristian sedangkan Tuhan sudah berkata yang Dia tidak suka akan kekeliruan. Ini menunjukkan doktrin triniti ada masalah.

“Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahsia yang tidak akan tersingkap.”

(Markus 4: 22)

Malangnya misteri, kebenaran dan logik triniti masih tidak dapat dihuraikan dan terus menjadi rahsia. Percaya saja, tak perlu difikir-fikir- kata mereka.

Dijawab pula oleh pendokong-pendokong Triniti, “Bukankah Tuhan itu Maha Hebat. Dia terlalu hebat hingga tidak mampu difikirkan dan dihuraikan oleh otak manusia. Kalau dia boleh difikir-fikirkan, maka itu bukan Tuhan namanya. Oleh sebab itu, percaya sajalah triniti dan anda akan selamat” Mereka berselindung di sebalik misteri dan keghaiban.

Memang benar, mustahil kita dapat memikirkan zat Tuhan tetapi kita boleh memikirkan apakah sifat-sifat yang layak dan sifat-sifat yang tak layak bagi Tuhan. Mustahil Tuhan diberanakkan. Mustahil Tuhan kalah bergusti dengan manusia. Mustahil Tuhan menyesal. Mustahil Tuhan tidak tahu apa akan terjadi pada masa depan. Mustahil Tuhan menunggang Kerub yang digambarkan sebagai anak-anak gadis tidak berpakaian. (* Semua penyataan ini ada dalam Bible. Dibahaskan dalam tajuk “Benarkah Ini Tuhan” di belakang nanti).

Juga agak menghairankan, mengapa mesti disebut secara berurutan ,”Dengan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”? Kalau ketiga-tiganya sama setara, sebut yang mana dahulu pun tak ada masalah. Mengapa ragu-ragu untuk menyebutkan: ‘Dengan nama Roh Kudus, Jesus dan Bapa” atau “Dengan nama Jesus, Roh Kudus dan Bapa.”

Hairan lagi. Kalau ketiga-tiganya peribadi yang sama, mengapa tidak disebutkan seorang saja? Bukankah salah seorang daripada Bapa, Jesus dan Roh Kudus adalah 100% Tuhan, merangkumi ketiga-tiganya sekali? Sepatutnya cukuplah kalau disebutkan: “Dengan nama Roh Kudus” sahaja atau “Dengan nama Bapa” sahaja.

“Tak seorangpun dapat mengabdikan dirinya kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.”

(Matius 6: 24)

Kalau benar ketiga-tiganya setara, kasih kita mestilah sama banyak kepada ketiga-tiganya. Mengapa Jesus yang lebih banyak disebut-sebut dan diagungkan sedangkan Roh Kudus sesekali sahaja? Mengapa Jesus yang dilebihkan?

 

Bible Telah Diubah

Dalam diam-diam, golongan Trinitari berusaha juga untuk menunjukkan yang fahaman triniti disokong oleh Bible, khususnya Perjanjian Baru. Berikut adalah ubahsuai yang mereka lakukan.

“Pergilah kepada semua bangsa di seluruh dunia dan jadikanlah mereka pengikutku. Baptiskanlah mereka dengan menyebut nama Bapa, Anak, dan Roh Suci.”

(Matius 28: 19)

Ayat asalnya berbunyi:

“Baptistkanlah mereka dengan menyebut namaku.”

“Semua, kecuali sarjana-sarjana yang paling konservatif, bersetuju bahawa sekurang-kurangnya bahagian akhir perintah tersebut (iaitu Bapa, Anak dan Roh Suci) telah ditambah kemudian. Formula ini tidak dijumpai di mana-manapun dalam Perjanjian Baru, dan dengan merujuk kepada bukti yang ada kita dapati bahawa Gereja pada zaman awal tidak membaptiskan orang menggunakan perkataan-perkataan ini - pembaptisan dilakukan atas nama Jesus sahaja.”

(“For Christ’s Sake”, Tom Harpur, m.s. 103)

“Telah dibahaskan bahawa ayat asal berbunyi “membaptiskan mereka atas namaku”, yang kemudiannya ditokok supaya selari dengan dogma yang dipegang. Malahan, pandangan utama yang diutarakan oleh sarjana-sarjana Kristian yang kritikal dan Unitari pada abad ke sembilan belas telah menyatakan pendirian sarjana-sarjana utama sehingga tahun 1919, semasa ulasan Peake mula-mula diterbitkan: ‘Pada zaman awal, Gereja tidak mengamalkan arahan sejagat ini, kalau pun mereka tahu mengenainya. Perintah pembaptisan atas tiga nama adalah penambahan terkemudian kepada doktrin’”

(“For Christ’s Sake”, Tom Harpur, m.s. 103)

Ini disahkan di dalam “Peake’s Commentary on the Bible” yang menjadi rujukan wajib pelajar-pelajar Bible:

Misi ini diterangkan menggunakan bahasa gereja dan kebanyakan pengulas was-was sama ada formula Trinitari adalah asli dalam Gospel Matius ini, memandangkan ia tidak ditemui di tempat-tempat lain dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Baru menceritakan bahawa pembaptisan dilakukan atas nama Tuhan Jesus (contohnya Kisah Rasul-rasul 2:38, 8:16 dan lain-lain).

Apa kata Peter/ Petrus, salah seorang hawari Jesus dalam Perjanjian Baru:

“Petrus menjawab, “Hendaklah setiap orang di kalangan saudara bertaubat daripada dosa, lalu DIBAPTIS DENGAN NAMA JESUS KRISTUS, supaya dosa saudara-saudara diampunkan…”

(Kisah Rasul-rasul 2:38)

Takkanlah Petrus yang berjawatan hawari Jesus sengaja membaptis dengan nama Jesus sahaja kalau benar Jesus mengajarnya membaptist dengan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus!

Ada lagi yang mereka ubah dalam Perjanjian Baru untuk menegakkan fahaman triniti tetapi berjaya dikesan.

“Saksi-saksi di syurga ialah Bapa, Firman (Jesus juga dipanggil Firman) dan Roh Suci – ketiga-tiganya adalah satu”

(Yohanes 5:7)

Setelah zaman-berzaman umat Kristian mengimani ayat ini, tiba-tiba hampir semua versi terbaru Bible seperti The New Revised Standard Version, The New American Standard Bible, New English Bible, Philips Modern English Bible dan sebagainya membuang ayat ini. Kenapa? Kerana ayat-ayat ini adalah penambahan kemudian untuk menguatkan doktrin triniti. Akhirnya mereka sendiri membuang ayat ini.

Teks mengenai saksi di syurga tidak terdapat di dalam mana-mana manuskrip Greek yang ditulis sebelum abad ke lima belas. Ia tidak dipetik oleh mana-mana penulis eklesiastikal, tidak juga oleh bapa-bapa Latin yang awal walaupun ketika membincangkan tajuk-tajuk yang memerlukan mereka merujuk kepada autoriti ayat tersebut. Oleh itu, terbukti bahawa AYAT INI ADALAH PALSU.

(Benjamin Wilson dalam “Emphatic Diaglot”)

Teks mengenai tiga saksi di syurga di dalam Perjanjian Baru adalah tidak tulen.

(“The Interpreter’s Dictionary of the Bible”, Vol. 4, m.s. 711, Abingdon Press)

Yohanes 1 5:7 KJV berbunyi : ‘Saksi-saksi di syurga ialah Bapa, Firman, dan Roh Suci – ketiga-tiganya merupakan satu’, tetapi INI ADALAH SISIPAN yang tidak dapat dikesan sebelum penghujung abad keempat.

(“The Interpreter’s Dictionary of the Bible”, Jilid. 4, m.s. 871, Abingdon Press)

“Di dalam Textus Receptus (di dalam KJV), 1 Yohanes 5:7, kelihatan seolah-olah Yohanes telah sampai kepada doktrin triniti dalam bentuk yang jelas (Bapa, Firman dan Roh Suci), tetapi teks ini jelas sekali adalah suatu sisipan kerana ia TIDAK TERKANDUNG DALAM MANUSKRIP GREEK YANG ASAL.”

(“The Eerdmans Bible Dictionary”, disunting oleh A.C. Myers, m.s. 1020)

“Tiga saksi tersebut telah dimasukkan ke dalam Perjanjian bahasa Greek dengan cermat oleh Erasmus, melalui penipuan penyunting-penyunting Komplutensia; melalui penipuan atau kesilapan tipografi, melalui pemalsuan oleh Robert Stephens, dan salah faham oleh Theodore Beza.”

(“Decline and Fall of the Roman Empire” Gibbon, m.s. 418)

Seorang sarjana Britain, iaitu Richard Porson, yang sezaman dengan Edward Gibbon mempertahankan penemuannya; beliau juga telah menerbitkan bukti kukuh yang tidak dapat dipertikaikan bahawa Yohanes 1 5:7 ditambah buat pertama kalinya ke dalam Bible oleh Gereja pada tahun 400 Masihi.

(“Secrets of Mount Sinai”, James Bently, m.s. 30-33).

“Sisipan TIGA SAKSI tidak dicetak di dalam RSV, dan ini adalah tindakan yang tepat. Ia memetik saksi di syurga Bapa, logos dan Roh Suci, tetapi tidak pernah digunakan oleh golongan Trinitari semasa kontroversi awal. Tiada manuskrip Greek yang sahih yang mengandungi ayat ini. Ia mula-mula muncul dalam teks Latin pada penghujung abad ke-14, kemudiannya di dalam Vulgate dan akhir sekali di dalam PB Erasmus.”

(Peake’s Commentary on the Bible)

. Malangnya, sehingga ke hari ini Bible yang dimiliki oleh kebanyakan penganut Kristian, iaitu Bible King James yang popular, tidak teragak-agak memasukkan ayat ini sebagai kata-kata Tuhan yang telah diilhamkan. Tiada sebarang nota kaki dibuat. Mereka mahu dunia percaya bahawa itu memang datang daripada Tuhan.

Melakukannya dalam keadaan orang tidak tahu, itu perkara biasa. Tapi melakukannya dalam keadaan orang ramai sudah tahu perkara sebenar, memang menghairankan.

“Triniti Tuhan ditakrifkan oleh Gereja sebagai kepercayaan bahawa Tuhan adalah tiga peribadi yang wujud dalam satu sifat. Kepercayaan ini hanya muncul pada abad keempat dan kelima selepas Masihi, dan oleh itu, bukanlah kepercayaan biblikal yang jelas dan formal.”

(“The Dictionary of the Bible”, J.L. McKenzie, m.s. 899

Bible Sebagai Bukti

“Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasnya (Jesus). Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah anak-Ku yang Ku-kasihi, kepadamulah Aku berkenan.”

(Lukas. 3:22)

Renung-renungkan. Roh Kudus sedang turun dari langit dan ketika itu Roh Kudus mengubah dirinya menjadi burung merpati. Jesus pula sedang berada di bumi manakala Bapa yang berada di syurga sedang berkata-kata. Anda melihat ketiga-tiga individu di atas sebagai tiga individu atau satu individu? Tiga badan atau satu badan? Tiga tempat atau satu tempat? Tiga peranan atau satu peranan?

Sekiranya Jesus sudah 100% Tuhan, mengapa dia perlu wahyu daripada Bapa di syurga? Mengapa mesti Roh Kudus menghantar wahyu? Sepatutnya tak payahlah dihantar-hantar lagi kerana wahyu itu datangnya daripada Jesus sendiri!

“Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia (iaitu Jesus), ia akan diampuni; tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.”

(Markus 12:36)

Sesiapa yang menentang Jesus, orang itu boleh diampunkan. Tetapi sesiapa yang menentang Roh Kudus, tidak akan diampuni. Kan jelas ini membuktikan Jesus dan Roh Kudus bukan peribadi yang satu tetapi berlainan. Jesus bukan 100% Roh Kudus dan Roh Kudus bukan 100% Jesus.

“Aku (Tuhan) di dalam mereka (sahabat-sahabat Jesus) itu, dan engkau (Jesus) di dalam Aku, supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan.”

(Yahya 17:23)

Nampaknya Tuhan juga berada di dalam tubuh 12 orang ,sahabat-sahabat Jesus. Sekarang bukan lagi 3 dalam 1 tetapi sudah menjadi 15 dalam 1. Mengapa sahabat-sahabat Jesus juga tidak dianggap Tuhan?

“Supaya SEMUA MENJADI SATU, seperti Bapa di dalam aku dan aku di dalam Bapa dan supaya mereka (murid-murid Jesus) menjadi satu di dalam kita, biarlah dunia percaya yang Bapa telah mengutus aku.”

(Yohanes 17:21)

Ayat ini menunjukkan yang murid-murid Jesus pun bersatu dalam diri Tuhan, bukan Jesus sahaja. Mengapa murid-muridnya tidak dianggap Tuhan atau Anak Tuhan juga? Di sini Jesus juga mengakui Bapa (Tuhan) yang mengutusnya. Dia hanyalah utusan Tuhan.

“Atau mungkinkah kamu tidak tahu bahawa seseorang yang bersetubuh dengan pelacur, MENJADI SATU dengan pelacur itu? Di dalam Alkitab tertulis dengan jelas, “Kedua-duanya menjadi satu”. Tetapi seseorang yang menyatukan diri dengan Tuhan, ROH ORANG ITU MENJADI SATU DENGAN ROH TUHAN.”

(Korintus 1 6:15-17)

Berdasarkan ayat ini, adakah “satu” itu bermaksud betul-betul bersatu sebagai satu peribadi? Pasti tidak.

“Inilah kehidupan yang kekal, iaitu supaya mereka mengenal Engkau Tuhan Yang Esa (Satu), dan Jesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu.”

(Yahya 17:3)

Bukankah sepatutnya mengatakan: “…supaya mereka mengenal Aku (Jesus) Tuhan Yang Esa, iaitu Aku yang tidak boleh disuruh oleh sesiapa kerana Aku Tuhan.”

Sokongan The Last Testament- Al Quran:

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, …”

(Surah Al-Baqarah: 163)

Cubaan Dari Segi Logik

Masa ada tiga iaitu masa lalu, masa kini dan masa akan datang. Isi keluarga ada tiga iaitu bapa, ibu dan anak. Manusia ada tiga eleman iaitu pepejal, gas dan cecair. Udara ada tiga atom iaitu hidrogen, oksigen dan nitrogen. Air ada tiga unsur iaitu pepejal, cecair dan wap. Segitiga ada tiga sisi tetapi tetap satu segitiga.

Permainan ini kita ketepikan dengan mudah. Manusia ada dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki dan lain-lain yang bersifat sepasang. Hari ada dua iaitu siang dan malam. Tempat pembalasan ada dua iaitu syurga ataupun neraka. Setiap tangan yang sihat ada lima jari. Setiap segiempat ada empat bucu tetapi masih segiempat yang satu. Manusia ada satu nyawa, satu otak, satu jantung. Setahun ada empat musim. Seminggu ada tujuh hari dan sebagainya.

Mereka sesuaikan pula dengan kitab Bible. Jesus dimatikan 3 hari. “Kudus” disebut 3 kali (Yesaya 6:3). Tuhan ada 3 oknum iaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Nabi Ibrahim dikunjungi 3 malaikat (Kejadian bab 18) dan banyak lagi.

Jawapan kita, Jesus dimatikan 2 malam bukan tiga. Sahabat-sahabat Jesus 12 orang. “Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian)- hanya dua iaitu langit dan bumi. Ketika disalib Jesus hanya menjerit “Tuhanku, Tuhanku” dua kali, Gospel-Gospel ada empat dan banyak lagi.

Ringkasnya, hujah-hujah logik seperti itu tidak akan membuktikan triniti.

Pembelaan-pembelaan lain ke atas pegangan Kristian insyaallah akan kita bincangkan dalam buku yang kedua nanti.


Kesimpulan

Tidak boleh beriman secara “buta” atau atas dasar “kasih” sahaja, tetapi mesti menggunakan kekuatan akal fikiran juga untuk menentukan baik buruknya, betul salahnya. Inilah pesan Bible dan juga Jesus.

Sebelum abad ke empat, umat Kristian yang menyembah Bapa sahaja sebagai Tuhan (iaitu para Unitarian) cukup banyak. Sehingga ke hari ini masih ada Kristian Unitari di mana-mana.

Dalam usaha untuk membuktikan triniti, ada pihak-pihak yang sanggup mengubah ayat-ayat Bible menjadikan kitab Bible tidak suci lagi.

Sumber:
 
Apakah Injil Barnabas sahih atau palsu? 

Pengenalan

Umat Kristian sejak awal lagi mempercayai bahawa keempat-empat kitab Berita Baik (Injil) yang disampaikan oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes adalah diilhamkan oleh Roh Allah, dan mengandungi keterangan yang sah tentang riwayat serta karya Tuhan Yesus dan merupakan Berita Baik bagi dunia. Kitab-kitab ini disebut Berita Baik (Injil) yang disampaikan oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Sebaliknya, agama Islam mendakwa bahawa kitab Berita Baik (Injil) orang Kristian tidak sah. Menurut dakwaan sesetengah orang Islam, sebuah buku yang berjudul injil Barnabas, kononnya ditulis pada abad pertama (1 T.M.) oleh Rasul Barnabas dan dikatakan bahawa inilah injil sebenar yang diberikan oleh Yesus. Perkara yang menghairankan adalah buku ini hanya muncul pada abad ke-18 T.M.!

Artikel ini bukan bertujuan menyindir sesiapa tetapi untuk memaparkan kenyataan supaya kebenaran dapat dibezakan daripada kepalsuan dan agar kebenaran akan dipercayai.

Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 8:31,32,36, “… Jika kamu taat kepada ajaran-Ku, kamu benar-benar pengikut-Ku. Kamu akan mengenal Allah. Oleh itu kamu akan dibebaskan … Oleh itu, jika Anak membebaskan kamu, kamu benar-benar bebas.”

Mula-mula akan dijelaskan sebab-sebabnya mengapa sesetengah umat Islam menyanjung tinggi buku yang berjudul injil Barnabas. Kemudian kita akan melihat bahawa tiada apa-apa bukti yang menunjukkan buku ini dikarang oleh Rasul Barnabas. Kita akan melihat bukti-bukti yang menunjukkan buku yang berjudul injil Barnabas adalah palsu dan tidak mungkin dikarang lebih awal daripada abad ke-14 T.M.

Sebab-sebab mengapa buku berjudul injil Barnabas dihargai oleh sesetengah orang.

Walaupun terdapat banyak sebab tetapi semua itu dapat diringkaskan kepada dua sebab:

1. Keterangan tentang kehidupan Tuhan

Yesus seperti yang tercatat dalam injil Barnabas ada banyak persamaan dengan keterangan yang terdapat dalam Al-Quran. Injil Barnabas menyatakan bahawa Yesus bukan Anak Allah, bukan Penyelamat (Mesias) dan tidak disalibkan.

Bagi orang Islam, tidak terdapat banyak bukti untuk menyokong ajaran Al-Quran apabila ajaran Al-Quran bertentangan dengan Alkitab. Misalnya Al-Quran menyatakan bahawa Yesus tidak disalibkan. Bagaimanapun, oleh sebab Al-Quran ditulis lebih kurang 600 tahun selepas peristiwa kematian Tuhan Yesus, maka dakwaan Al-Quran ini tidak berasas.

Injil Barnabas menceritakan bahawa Yesus tidak disalibkan, melainkan orang lain yang disalibkan untuk menggantikan tempat-Nya. Cerita ini digunakan untuk menyokong dakwaan yang terdapat dalam Al-Quran.

Buku ini juga mencaci dan mengecam Rasul Paulus dan pelayanannya. Buku ini amat pro-Islam. Isi kandungannya berlainan sekali dengan Berita Baik (Injil) yang terdapat dalam Alkitab. Maka tidak hairanlah jika buku ini diterima oleh orang Islam dan dianggap mereka sebagai injil yang sebenar.

2. Injil Barnabas kononnya mengandungi ‘nubuat’ tentang kedatangan Muhammad.

Umat Islam percaya bahawa kedatangan Muhammad dinubuatkan dalam Alkitab. Nas Al-Quran yang menyokong kepercayaan mereka ini adalah Surah 7:157:
“… orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummin yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”

Jika ayat ini benar, maka kita seharusnya mendapat banyak rujukan tentang nabi Muhammad dalam nubuat-nubuat yang terdapat dalam Taurat (Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan) dan Berita Baik (Injil) yang disampaikan oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Para sarjana Islam asyik mencari nubuat-nubuat ini untuk melandaskan kepercayaan mereka bahawa kedatangan Muhammad memang dinubuatkan. Implikasi daripada nas Al-Quran adalah nubuat-nubuat ini akan mudah ditemui. Tetapi sarjana Islam hairan apabila mendapati bahawa Yesus Kristus dan bukan Muhammad yang dinubuatkan dalam Alkitab.

Sementara sesetengah sarjana Islam masih mencari-cari dalam berita Baik (Injil) dengan harapan mendapat nubuat-nubuat yang sesuai untuk menyokong dakwaan Al-Quran, sesetengah umat Islam melihat injil Barnabas sebagai jawapan kepada usaha mereka. Dengan itu, alasan mereka adalah Alkitab Kristian telah ditukar dan diubah oleh manusia dan injil Barnabas sahaja injil yang sebenar.

Bukti-bukti kepalsuan “injil” Barnabas.

Bagi orang yang inginkan kebenaran, tidaklah menjadi masalah untuk mengetahui bahawa buku yang berjudul “injil Barnabas” ini adalah injil yang palsu. Sebenarnya sarjana-sarjana Kristian dan juga sarjana-sarjana Islam yang sungguh-sungguh, bersetuju bahawa buku ini adalah injil yang palsu, yang dikarang oleh seorang yang beragama Islam, dari Italia pada abad ke-14.

Injil Barnabas bercanggah dengan Al-Quran.

Para sarjana Islam yang sungguh-sungguh akan menolak buku ini kerana keterangannya bercanggah dengan apa yang terdapat dalam Al-Quran. Penulis injil Barnabas, dalam usahanya menulis sebuah buku untuk menyokong keterangan yang terdapat dalam Al-Quran, telah membuat banyak kesilapan, dan akhirnya hasil usahanya bercanggah dengan Al-Quran. Percanggahan-percanggahan ini harus menyedarkan orang Islam akan kepalsuan buku ini kerana jika mereka mengakui injil Barnabas itu sahih, maka secara tidak langsung mereka mengatakan bahawa Al-Quran adalah salah.

Bagi maksud kita di sini, cukuplah untuk melihat beberapa contoh percanggahan antara Al-Quran dan injil Barnabas.

i) Dalam beberapa petikan dari injil Barnabas, Yesus dikatakan menyebut nabi Muhammad sebagai Penyelamat (Mesias). Hal ini tidak mungkin berlaku dan mereka yang membaca Al-Quran tahu bahawa gelaran “Al-masih” atau “Mesias” diberikan kepada Yesus dan bukan Muhammad.

Barnabas 96:
“… Yesus menjawab: Demi Allah yang hidup, di hariat-Nya aku berdiri, aku bukanlah Mesias yang ditunggu-tunggu oleh bangsa-bangsa dunia ini.”

Surah 5:72:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata “sesungguhnya Allah ialah Al-Masih Putra Mariam, pada hal Al-Masih (sendiri) berkata: Hai bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan-Mu.”

Dalam injil Barnabas, penulisnya menulis tentang sembilan langit pada hal Al-Quran hanya menyebut tujuh langit.

Barnabas 178:
“… Firdaus sangat besar sehingga tiada manusia dapat mengukurnya. Sesungguhnya saya kata kepadamu bahawa langit adalah sembilan, di antara mana terletak cakrawala-cakrawala…”

Surah 2:29:
“Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan berkehendak (menciptakan) lalu dijadikannya tujuh langit.

Penulis injil Barnabas menyatakan bahawa Mariam semasa memperanakkan Yesus tidak mengalami kesakitan. Hal ini bercanggah dengan Al-Quran yang menerangkan tentang kesakitan Mariam semasa kelahiran Yesus.

Barnabas 3:
“… (Mariam) dikelilingi oleh cahaya yang amat terang dan melahirkan anaknya dengan tanpa merasa sakit, lalu membalutnya dengan kain dan meletaknya di atas palung…”

Surah 19:23:
“Maka Mariam mengandungnya lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu di tempat jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia pada pohon kurma. Dia berkata ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak bererti, lagi dilupakan’.”

Bagi orang Kristian, percanggahan injil Barnabas dengan Al-Quran bukanlah sebab utama mengapa kita menolak injil Barnabas, kerana bagi orang Kristian, Alkitab sahajalah Firman Allah. Kita menolak injil Barnabas ini kerana isi kandungannya tidak mungkin dikarang oleh Rasul Barnabas dan fakta-fakta yang terdapat dalam buku itu bercanggah dengan fakta sejarah, dan Rasul Barnabas tidak mungkin membuat kesilapan-kesilapan itu.

Kandungan injil Barnabas tidak mungkin dikarang oleh Rasul Barnabas.

Marilah kita lihat siapakah Barnabas itu sebenarnya untuk mengetahui sama ada dia yang menulis buku yang berjudul injil Barnabas. Nama Barnabas pertama kali disebut dalam Kisah Para Rasul. Dia seorang yang kaya, orang Lewi yang peramah dan penyayang, teman Paulus, dan seperti Paulus diberikan gelaran rasul. Kisah Rasul-Rasul 4:36, 9:26, 27; 11:22,24,25,30; 12:25; 13:1,50; 14:12; 15:36,39; 1 Korintus 9:6; Galatia 2:1,13; Kolose 4:10.

Penulis buku injil Barnabas menghentam hebat pengajaran-pengajaran Paulus terutamanya tentang penyaliban, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, dan kepercayaan Kristian bahawa Yesus ialah Anak Allah. Buku itu pada keseluruhannya mengandungi bahan-bahan kepercayaan yang bertentangan dengan kepercayaan Paulus. Bolehkah Rasul Barnabas yang sebenar mengarang buku itu?

Kita melihat dalam Kisah 9:27 bahawa semasa Paulus datang ke Yerusalem, Barnabas itulah yang mengakuinya sebagai pengikut Yesus.

Kisah 9:27
Kemudian Barnabas menyambut dia dan membawa dia kepada rasul-rasul. Barnabas memberitahu mereka bahawa Saulus sudah melihat Tuhan dalam perjalanan ke Damsyik, dan bahawa Tuhan sudah berkata-kata kepadanya. Dia juga memberitahu mereka bahawa dengan berani Saulus mengajar di Damsyik demi nama Yesus.

Barnabas dan Paulus bersama-sama memberitakan Yesus sebagai Anak Allah dan tentang bagaimana Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. (Kisah 13:33)

Dari keterangan-keterangan yang ada, jelaslah bahawa Rasul Barnabas bukan penulis buku injil Barnabas. Orang lain telah mengarang buku itu dan menggunakan namanya dengan maksud mengelirukan orang.

Kesilapan fakta yang tidak mungkin dilakukan oleh Rasul Barnabas.

1. Apabila kita memeriksa sejarah Barnabas, kita akan mendapati bahawa dia muncul di kalangan rasul-rasul selepas kebangkitan Yesus. Namanya yang asal ialah Yusuf (Kisah 4:36). Oleh sebab kasihnya dia telah menjual sebidang tanah miliknya dan menyumbangkan hasil jualan itu kepada rasul-rasul untuk dibahagikan kepada orang yang memerlukan bantuan.

Perbuatan kasih Barnabas itu sangat menggalakkan orang Kristian, sehingga rasul-rasul pun memberinya gelaran “Barnabas” yang bermakna “anak penggalak”. Maka Barnabas hanya dipanggil Barnabas selepas kebangkitan Tuhan Yesus.

Penulis injil Barnabas membuat satu kesilapan yang besar apabila dia menulis bahawa Barnabas adalah salah seorang daripada dua belas rasul yang selalu bersama-sama Yesus semasa pelayanan-Nya, dan Barnabas dipanggil dengan nama Barnabas oleh Yesus sendiri.

Kisah 4:36
Begitu juga halnya dengan Yusuf. Dia seorang keturunan Lewi yang lahir di Siprus. Rasul-rasul juga menyebut dia Barnabas (yang bererti penggalak).

Barnabas 19
Yesus menjawab, “Jangan susah hati, Barnabas, kerana mereka yang dipilih Allah sebelum ciptaan dunia ini tidak akan binasa…”

2. Penulis “injil Barnabas” menyatakan bahawa Yesus selalu menafikan bahawa Dialah Mesias. Tetapi dalam buku itu Yesus juga disebut “Kristus”.

Barnabas (Pengenalan P):
Barnabas, rasul Yesus orang Nazarene yang disebut Kristus, kepada semua mereka yang diam di bumi yang mengingini damai sejahtera dan penghiburan.

Perkataan “Kristus” sebenarnya adalah terjemahan Yunani untuk perkataan Mesias (ertinya Penyelamat) dan “Yesus Kristus” bermaksud Yesus Mesias. Percanggahan dalam pernyataan penulis yang menyatakan Yesus bukan Mesias tetapi adalah Kristus, membongkarkan kepalsuan buku itu.

3. Dalam injil Barnabas, ada disebut tentang tahun Yobel. Pada masa nabi Musa, Allah telah menetapkan supaya orang Yahudi merayakan tahun Yobel setiap lima puluh tahun. Ada tertulis dalam Imamat 25:10,
“Dengan demikian kamu mengkhaskan tahun yang kelima puluh, dan mengisytiharkan kebebasan kepada segenap penduduk negeri …”

Akan tetapi dalam injil Barnabas 82, dikatakan bahawa “di seluruh dunia, tahun Yobel yang dirayakan setiap seratus tahun akan diubah oleh Mesias kepada setiap tahun di segala tempat.”

Di sini ada satu kesilapan fakta yang sangat ketara. Tahun Yobel yang dirayakan setiap lima puluh tahun dikatakan dirayakan setiap seratus tahun. Dengan itu, kesilapan yang sangat ketara ini memungkinkan kita mengandaikan abad keberapa buku ini ditulis. Pada tahun 1300 T.M. Paus Boniface VIII, ketua gereja Katolik telah mengeluarkan perintah supaya tahun Yobel ini dirayakan setiap 100 tahun. Selepas Paus Boniface VIII meninggal dunia, Paus Clement VI memberikan perintah pada tahun 1343 T.M. supaya perayaan tahun Yobel diubah semula kepada sekali dalam 50 tahun, sama seperti kekerapan yang diikuti pada zaman Musa.

Dengan latar belakang ini, kita boleh menyimpulkan bahawa penulis buku injil Barnabas hanya tahu tentang perintah Paus Boniface VIII. Perkara ini membuktikan bahawa penulis itu hidup pada zaman Paus Boniface VIII atau selepas itu. Kesimpulan yang ketara adalah injil Barnabas tidak mungkin ditulis lebih awal daripada abad ke-14 dan semua nubuat yang terkandung di dalamnya tentang kedatangan Muhammad adalah palsu kerana buku itu ditulis selepas kedatangan Muhammad.

Kesimpulan

Bukti-bukti yang ada jelas membuktikan bahawa injil Barnabas tidak mungkin ditulis lebih awal daripada abad ke-14 T.M. Rasul Barnabas bukan penulisnya. Seorang yang mempunyai pengetahuan yang cetek tentang agama Kristian dan yang beragama Islam telah menulisnya untuk mengelirukan orang ramai.

Buku itu mempunyai banyak percanggahan yang membongkarkan kepalsuan buku itu. Orang Islam juga harus menolak buku itu kerana keterangan dalam buku itu tidak serasi dengan keterangan dalam Al-Quran.

Galatia 1:8
Jika kami, ataupun malaikat dari syurga mengkhabarkan berita baik yang berlainan daripada Berita Baik yang telah kami khabarkan kepada kamu, biarlah orang itu dihukum oleh Allah.

Bagi orang Kristian, kita harus berpegang kepada Injil yang terdapat dalam Alkitab yang terkandung dalam kitab Berita Baik (Injil) yang disampaikan oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, bahawa Tuhan Yesus, Anak Allah telah datang ke bumi ini dan melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia telah membuka satu-satunya jalan bagi kita kepada Allah Bapa di syurga. Bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Inilah Injil yang sebenar.

Sumber:

http://pedson.blogspot.com/2008/01/isa-almasih-yesus-kristus-dalam-al.html

Isa Almasih (Yesus kristus) dalam Al Quran dan Hadits

  • Isa lahir dari Roh Allah dan Tanda Kekuasaan Allah yang besar untuk Alam Semesta= qs 21:91
  • Isa itu Roh Allah dan firmanNya = hadis Anas bin Mlik hal 72
  • Isa itu Rasul Allah dan FirmanNya = qs 4:171
  • Isa itu Jalan Yang Lurus supaya diikuti = qs 43:61 (bandingkan dgn qs 3:47-51)
  • Isa membawa terang supaya diikuti. Taat kepada Allah dan Isa = qs 43:63
  • Isa diberi mujizat dan Rohul Kudus = qs 2:253
  • Isa mengatakan perkataan yang benar = qs 19:24
  • Isa menyembuhkan orang buta sejak lahir, juga orang yang berpenyakit sopak, menciptakan burung, menghidupkan orang mati = qs 3:49
  • Isa menghidupkan orang mati dari kubur = qs 5:110
  • Isa terkemuka di dunia dan akherat = qs 3:45
  • Isa adalah satu-satunya Imam Mahdi = hadis ibnu majah
  • Isa lahir, mati dan dibangkitkan kembali = qs 19:33
  • Isa akan diimani oleh semua ahli kitab = qs 4:159
  • Isa itu hakim yang adil pada akhir zaman = hadis sohim muslim
  • Isa itu Yang Awal dan Yang Akhir = qs 57:3
  • hanya Isa yang sedari bayi tidak disentuh setan = hadis bukhari no 1493
  • Isa langsung berfirman tanpa perantara malaikat = qs 19:29-32
  • Isa diperkuat oleh Rohul Kudus = qs 2:87
  • Isa adalah Rahmat dari Allah dan tanda bagi manusia = qs 19:21
  • Isa adalah suci = qs 19:19-21
  • Isa memiliki pengetahuan Gaib = qs 3:49

Sumber:

http://pedson.blogspot.com/2009/05/mau-mengislamkan-teman-kristen-malah.html

Thursday, May 14, 2009

Saudara-saudaraku, saya ingin memberi kesaksian saya bagaimana Tuhan telah menyelamatkan saya dan memanggil saya secara khusus dan dengan kuasanya Dia memilih saya sebagai anakNya dan seterusnya sebagai hambaNya melalui berkat anugerahnya dalam Al-Masih Isa yang telah diberikan, bukan sahaja kepada saya tetapi sesungguhnya kepada seluruh dunia juga!

Saudara-saudari, satu daripada lagu yang telah saya gubah menyatakan bahawa di dunia ini ada ramai orang yang sedang mencari-cari keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Tetapi alkitab telah pun menyatakan bahawa hanya dalam Al-Masih Isa terdapat keselamatan untuk setiap jiwa di dunia ini! Dan melalui Isa sahajalah saya telah menerima rahmat dan berkat Tuhan serta jaminan kesejahteraan dunia dan di akhirat. Firman Tuhan yaitu Al-Kitab telah bersabda bahawa:

Berbahagialah orang yang mempercayai dalam Isa walau pun tidak lihatnya dengan mata sendiri.

Yohanes 20 : 29

Tuhan telah memanggil dan menyelamatkan saya, bukan melalui peristiwa-peristiwa atau kejadian ‘supernatural’ atau pengalaman yang ajaib yang menakjubkan! Kerana secara usaha manusia, adalah mustahil bagi saya menerima Kristus dan saya tidak mungkin menjadi seorang pengikut Al-Masih itu. Sebabnya ialah sejak taman asuhan kanak-kanak (Taska) lagi saya dibesarkan di pesantren (perkampungan di mana terdapat sekolah-sekolah agama dan madrasah Islam). Selepas itu saya telah dididik dan dibentuk selama enam tahun di sekolah pesantren itu dan telah menjalankan pendidikan saya dengan begitu baik. Setelah itu, keluarga saya telah berpindah, lalu saya pun melanjutkan pendidikan saya di sebuah pesantren lain selama tiga tahun lagi.

Sebagai satu contoh kecemerlangan saya di pusat pengajian Islam pesantren ini, pada tahun 1987, saya telah dipilih mewakili kota saya dalam pertandingan tilawah Al-Quran. Dan saya telah menjadi juara pertandingan itu! Dan pada tahun 1988, saya telah juga menjuarai pertandingan kaligrafi Islam, yaitu seni Khat Arab yang halus itu. Pada masa itu juga, kami telah menjadi juara pertandingan pidato bagimana berdakwah secara berkesan untuk Islam, bagaimana untuk berusaha, mencari, berkhutbah secara Islam dan berdakwah ajaran Islam kepada mereka yang bukan Islam.

Kemudian saya telah melanjutkan pendidikan saya lagi di sebuah institusi pengajian tinggi yang menyiapkan guru-guru agama Islam di kota kami. Di sini kami sebagai umat Islam amat mantap dan sangat percaya bahawa Islamlah yang paling benar, kerana selaras dengan ajaran Al-Quran bahawa: ‘Innadinna indallah-hiislam’ – ‘sesungguhnya agama yang benar disisi Allah ialah Islam’. Dan satu misi besar bagi kami ialah untuk berusaha mencari mereka yang masih belum memeluk agama Islam.

Kewajiban besar bagi kami di sekolah tinggi itu untuk memberi penjelasan kepada Islam bagi orang yang bukan Islam. Di sekolah itu juga, saya telah diberi ajaran bahawa, pada masa yang dahulu, berlakunya suatu Perang Salib, diantara umat Islam dan umat Kristian, dan dalam perang Salib itu umat Islam telah menang. Bagi saya, ini menunjukkan bahawa Islamlah agama yang benar. Kerana menurut ulamak dan kiyai saya, Tuhan berpihak kepada orang Islam, sehingga orang Islamlah yang menang dalam perang ini!

Ini juga telah meyakini saya dengan lebih dalam ayat Quran itu “sesungguhnya agama yang benar disisi Allah ialah Islam” dan saya dipacu dan didorong untuk mencari-cari meraka yang belum lagi mengenal Islam. Dan di kota saya, kumpulan yang terbesar sekali yang belum terima Islam ialah dari keturunan Cina-Tionghua. Oleh itu, saya amat rindu dan tergerak hati untuk mendakwahkan mereka. Menurut tanggapan saya, agama orang-orang Cina ini adalah salah dan mereka perlu mendengar utusan Islam. Meskipun begitu, saya amat berhati-hati semasa mendekati orang Cina kerana saya tahu yang makanan kesukaan mereka ialah daging babi. Sebagai ajaran Islam, daging itu adalah jenis najis mugholadhl’oh-yaitu najis yang terkotor sekali. Jika tersentuh, untuk membersihkan dari kekotoran ini, orang yang tercemar itu kena mencuci tujuh kali dengan lumpur dahulu selepas itu mesti cuci dengan air bersih sebanyak tujuh kali – barulah boleh dikira ‘suci’. Jadi, saya sebagai seorang Islam amat berhati-hati supaya tidak tersentuh dengan orang Cina.

Walaupun begitu, saya amat terdorong untuk berdakwah kepada orang Cina. Perbualan saya dengan mereka seringkali diselit dengan soalan-soalan seperti berikut:

“Hei kawan, mahukah anda dengarkan cerita dari saya? Saya ingin tanyakan anda-Apakah agama anda?”

Pada satu hari saya telah tanyakan seorang sahabat keturunan Cina saya soalan di atas. Maka kawan saya itu telah menjawab: “Agama saya Kristian”

Lalu saya berkata kepadanya: “Wahai kawanku, tahukah saudara bahawa amanat Kristian itu benar hanya untuk dua ribu tahun yang lalu? Pada saat Nabi Isa masih hidup, tetapi sekarang agamanya telah digantikan dengan agama yang baru dan seorang Nabi yang baru!” Yaitu Islam dan nabinya ‘Muhammad’.

Tetapi dia katakan : “Oh bagi saya itu tidak menjadi masalah, jika ada agama yang baru atau tidak …kerana bagi saya dengan IMAN saya pasti masuk syurga!

Apabila mendengar ini, saya telah amat terkejut…! Sebab selama 10 tahun saya belajar di sekolah agama pesantren dan selepas itu lebih empat tahun lagi di institusi perguruan tinggi Islam saya tidak pernah dengar bahawa masuk syurga itu pasti! Yang ada sahaja adalah kata-kata ‘Insyaallah…’. Yaitu “ad-dunia mazsira-tul akhirah” – yaitu Dunia ini adalah satu tempat berlumba-lumba untuk menuju ke Akhirat, dan untuk memasukinya pun dengan “Insyaallah’” sahaja. Tapi bagaimanakah saudara Kristian ini boleh kata, memasuki syurga baginya adalah pasti? Jadi saya menegurnya dengan soalan :

‘Wahai saudaraku, Sememangnya Syurga itu kepunyaan Bapamu, ke?’

Lalu dia menjawab : “Ya! Memangnya Syurga itu Bapaku punya.”

Saya amat terkejut dengan jawabannya itu dan terlintas di fikiran saya pada saat itu nas Al-Quran Surah al-Ikhlas ayat 6 : “Lam walid wa lam yulad” yakni “bahawa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan” dan di surah al-Jinn ayat 3 :”Bagaimana Allah boleh mempunyai Anak kalau Dia tidak mempunyai permaisuri?” Tetapi bagaimana sahabat Kristian ini sanggup mengakui Tuhan sebagai Bapanya sendiri? Kemudian saya tanyakan dia lagi: “Sememangnya Tuhan kamu Siapa?, dan namaNya Siapa?” Dia jawab dengan tenang: Tuhan saya adalah Yesus (Isa) – pada saat saya dengar kata-kata itu, emosi saya telah naik marah dan saya marah besar kepada dia. Kerana dia telah menyekutukan Allah, mengikut tanggapan saya. Ajaran saya selama ini yalah: “La-illah ha-ilallah” yakni “Tidak ada Tuhan kecuali Allah.” Tetapi bagaimanakah sahabat Kristian saya ini boleh kata Isa adalah Tuhannya! Jadi saya pun mengucapkan kepada kawan itu: “Lakum di-nukum al ya-din” – “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Surah al-Kafirun 6).

Kemudian saya anggap pertemuan itu sudah selesai. Saya pun pulang ke perkampungan saya dan hidup saya kembali seperti biasa. Saya teruskan pengajian dan pencarian saya untuk kebenaran. Mahupun di Institusi Islam saya atau secara peribadi. Semasa saya lakukan pengajian saya itu dialog yang telah berlaku dengan sahabat saya di atas tidak tinggalkan fikiran saya.

Di mana dialog itu menggerakkan saya untuk mencari siapakah sebenarnya Isa Al-masih itu. Dan mengapakah umat Kristian boleh kata bahawa ‘dengan iman seorang itu pasti masuk Syurga’. Saya telah mencari buku-buku yang bercerita tentang Isa. Saya telah temukan satu Kitab yang ditulis oleh Kiyai Mundhir Dhan Nadzir yang berjudul Fa’firu Il’lallah (Jalan Menuju ke Allah).

Dalam Kitab itu ada menjelaskan tentang peristiwa di akhir Zaman. Di mana di dalamnya diceritakan di zaman akhir akan terjadi peprangan di mana-mana, kebuluran di mana-mana, gempa bumi di mana-mana, keributan terjadi di mana-mana dan banyak orang akan resah gelisah dan ketakutan. Dalam keadaan yang semacam itu, kemudian muncullah satu kuasa yang sungguh dasyhat, yang bernama ‘Dajjal’. Dan Dajjal ini sangat-sangatlah menakutkan. Di mana matanya satu, dan dia amat tinggi dan besar, sehingga lautan pun sejauh selangkah kaki sahaja baginya. Di tangan kanannya dia membawa Syurga dan di tangan kirinya dia membawa Neraka. Dajjal ini pergi kemana-mana untuk mencari penghuni-penghuni bagi Syurga dan Neraka yang dibawakannya. Padahal Syurganya adalah Neraka di mana penghuni-penghuninya akan disiksa kekal abadi dan selama-lamanya! Dia pergi ke mana-mana saja mencari jiwa-jiwa untuk memasuki Syurganya itu. Tetapi, pada saat yang terakhirnya datanglah Penyelamat yang akan menentang Dajjal yang sangat jahat itu. Saya amat terkejut dengan siapakah yang akan datang selamatkan Dunia ini dari cengkaman Dajjal ini – ISA AL-Masih sebagai Imam Mahdi sendiri!

Datanglah Isa al-Masih sebagai Imam Mahdi yang akan selamatkan Dunia dari kejahatan siDajjal! Dua kuasa yang timbul ini akan bertemu dalam satu pertembungan peperangan yang dahsyat antara Isa dan Dajjal itu! Saya amat kagum dan heran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Semasa bertemu dengan Dajjal itu, Isa al-Masih berkata kepada bumi “Hai Bumi! Terbukalah..”. Maka dengan serta-merta Bumi pun terbuka dan Dajjal pun jatuh ke dalamnya dan terus terhimpit di dalamnya, lalu si Dajjal itu pun mati. Dari situ saya bertanya lagi : “Mengapakah masih ISA Al-Masih yang dapat mengalahkan Dajjal?” Kerana dalam foot-notenya buku ini, disebut bahawa Dajjal ini merupakan pergabungan segala kekuatan Iblis yang menjadi satu. Dan Dajjal ini akan menyesatkan ramai orang kedalam Neraka dengan kuasanya.

Soalan yang timbul di dalam fikiran saya ialah: Mengapa masih Isa Al-Masih yang dapat mengalahkan kuasa-kuasa Iblis ini? Mengapakah bukan Nabi Adam yang pernah temukan secara langsung dengan Iblis itu? Kenapakah bukan Nabi Nuh, Nabi Idris, Hud, Salleh dan nabi-nabi yang lainnya, dan bukan pula Nabi Muhammad yang dulu saya pernah menyanjungkan, muliakan dan impikan. Mengapakah masih Nabi Isa? Dalam kitab yang sama itu, muncullah cerita yang menjawab soalan-soalan yang runcing ini dalam jiwa saya. Setelah Hazrat Isa berkuasa selepas kekalahan Dajjal, maka terjadilah Hari Kiamat.

Pada masa Kiamat pula, semua jiwa manusia yang pernah hidup akan dikumpulkan di satu tempat yang bernama ‘Ara Mahsyar’ atau Padang Mahsyar. Mereka akan dikumpulkan di Padang Mahsyar ini untuk menunggu waktu penghakiman mereka, dimana satu-persatu mereka akan menghadapi seorang Hakim yang akan menghakimi setiap umat manusia. Mereka ini amat ketakutan saat ini kerana keadaan kepanasan yang amat sangat pada waktu itu. Mengikut gambaran Kitab itu, lantainya Padang Mahsyar adalah perak dan di atasnya pula terdapat Matahari yang boleh dijangkau dengan tangan manusia. Sehingga kepanasannya begitu teruk sekali dan membuat setiap manusia disana hancur menjadi air dan kemudian muncul lagi menjadi manusia; sehingga mereka ini semua berduyun-duyun mencari pembela mereka, supaya masalah mereka boleh cepat diadili.

Mereka bertemu dengan Nabi Adam, lalu menyeru kepada baginda:”Ya Nabi Adam, ya Nabi Allah-tolonglah cepat bela masalah kami!” Tetapi jawabnya Nabi Adam ialah : “Hai Umatku, aku tidak sanggup membela perkara kamu, kerana saya pun malu, saya pun harus mempertanggungjawabkan masalah saya sendiri di hadapan Hakim itu.” Kemudian mereka ke Nabi-nabi Nuh, Idris, Hud, Salleh dan kepada semua nabi yang lain untuk mencari pertolongan membela masalah mereka di hadapan Sang Hakim itu. Tetapi mereka semua pun tidak dapat tolong umat manusia itu! Kemudian mereka pergi mencari Nabi akhir zaman, nabi Muhammad. Mereka berseru:”Ya Rasullulullah, Tolong cepat bela masalah kami.” Lalu Muhammad menjawab mereka: “Wahai umatku, aku tidak boleh membela perkara kamu. Aku hanya boleh mendoakan syafaat bagimu sahaja…”. Tetapi Muhammad tidak dapat menentukan siapa diantara umatnya yang akan masuk Syurga atau Neraka. Keputusan muktamad dan terakhirnya hanya berada di dalam tangan Hakim yang akan menghakimi umat Manusia !

Saya amat terkagum dengan siapa yang menjadi Sang Hakim itu, saudara saudari, ternyata yang menjadi Penghakim adalah tidak lain dan tidak bukan : Isa Al-Masih. Soalannya sentiasa melintas difikiran saya : Mengapakah Isa Al-Masih lagi yang muncul menjadi Hakim ? Dialah yang menentukan mereka yang akan masuk syurga dan juga mereka yang akan masuk Neraka. Saya bertanya-tanya dan terus bertanya dan amat teringin mengetahui jawabannya. Dan kemudian saya mulai bertahajud, saya beristikhoro’ dan saya bersolat dan berdoa terus-menerus. Kerana saya tidak mahu berada di keadaan di tengah-tengah, dimana dosa dan pahala saya dihitung seimbang. Kerana saya tahu bahawa hidup di dunia ini hanya sementara, yang kekal hanya adalah di akhirat -syurga atau neraka. Yang menentukan kita masuk syurga atau neraka nanti adalah semasa kita di dunia hari ini.

Kemudian saya pun berdoa dan bersolat sambil mencari jawaban dan penyelesaian bagi soalan saya di atas. Saya telah menangis. Hati saya sentiasa mencari apakah hakikat yang sebenarnya tentang peranan besar yang dimain oleh Nabi Isa yang juga bergelar Al-Masih itu, dalam perkara Syurga dan Neraka. Selama tiga tahun saya telah bergumul dengan perkara yang penting ini, tiga tahun saya mencari-cari kebenaran siapakah sebenarnya Isa Al-Masih ini. Mengapa orang Kristian tetap yakin dengan iman mereka pasti masuki Syurga? Mengapa Tuhan umat Kristian adalah Yesus Kristus yakni Isa Al-Masih!

Tidak lama kemudian, saya diberi jawabannya. Tuhan telah bukakan mata dan hati saya kepada kebenaran – Siapakah sebenarnya Isa Al-Masih itu. Jawabannya datang dari ayat al-Quran Surah Al-Imran 3 ayat 45 :

“Malaikat berkata : Ya Maryam, sesungguhnya, Allah itu memberi khabar sukacita kepadamu, Maryam, dengan Firman yang dari Allah, Firman itu bernama Al-Masih Isa ibnu Maryam, yang berkuasa di dunia dan di dalam akhirat dan yang paling dekat dengan Allah…”

Sungguh indah hakikat ini. Firman Allah ini yang bernama Isa Ibnu Maryam yang berkuasa di dunia dan di akhirat. Alhamdullillah! Kesimpulannya dalam fikiran saya : Dia yang datang kali kedua, Dia yang mampu mengalahkan Dajjal, Dia yang akan menghakim umat manusia dan menentukan siapa akan masuk ke Syurga atau Neraka – memang itulah HAK Dia, sebab Isa ibnu Maryam itu berkuasa di Dunia dan juga di Akhirah!

Kemudian saya telah mencari sahabat Tionghua saya itu dan melaluinya saya memperolehi sebuah Al-Kitab yaitu sebuah Kitab Suci Injil (KSI). Saya telah cuba membaca KS Injil ini tetapi pada mula-mula saya takut lalu mengucap “ta’awuz” (nauzbillah…) sebelum membacakannya! Tetapi pada saat saya membukakannya saya telah merasa amat selesa sekali lalu saya bermula membaca dengan buku Kejadian.

Sungguh enak dan seronok sekali pembacaan saya itu! Kerana cerita dalamnya sangat jelas, dan kesinambungannya juga amat sempurna. Kronologinya sangat lengkap sekali dan berurutan! Dalam al-Quran tidak selengkap KS Injil. Kalau dalam Quran cerita Nabi Adam, terdapat di Surah Semut, Sapi Betina, Surah Labah-labah dan di Surah Guruh dsbnya, semuanya hanya secebis-secebis sahaja. Tetapi kesemuanya pun tetap tidak selengkap seperti Buku Kejadian dalam Al-Kitab!

Saya telah membaca selanjutnya Kitab Suci Injil itu. Semua cerita-cerita dalamnya amat cocok dengan ajaran dari kiyai-kiyai dan tokoh-tokoh Islam lain yang telah mengajar saya. Saya telah berusaha membaca dan memahami segala-gala yang terkandung dalamnya dengan hati dan fikiran yang terbuka sekali, dan Tuhan telah memperkenankan usaha pencarian saya itu.

Akhir kata, pada bulan Julai tahun 1991, sesudah bergumul selama tiga tahun dengan soalan-soalan saya, setelah memiliki dan membaca Kitab Suci Injil bagi diri sendiri, Tuhan telah memberkati saya dengan damai sejahtera dan keselamatanNya. Pada masa yang sama saya telah tertarik kepada sebuah lagu rohani yang memperingatkan saya tentang pencarian saya yang awal. Liriknya seperti berikut:

Sudahkah engkau siap sedia?
Menghadapi kedatangan Yesus kelak kembali!
Untuk mengangkat kita semua,
Yang sungguh-sungguh mengharap padaNya

Liriknya memperingatkan saya jika kita semua sudah siap menghadapi kembalinya Isa ke dunia ini. Hakikat ini ada juga diajar oleh agama Islam dan saranan untuk bersiap-sedia bagi kedatangan baginda kali kedua juga adalah sama. Sambil saya berfikir tentang persiapan saya, saya telah dinampakkan satu gambaran dosa-dosa saya yang sungguh besar sekali yang tidak mungkin dosa itu dapat diampuni. Tuhan telah menunjukkan dosa saya yang begitu besar sehingga mustahil bagi saya masuk syurga. Pada saat itu saya mulai menangis atas segala yang telah saya renungkan. Tetapi pada waktu itu juga Tuhan telah menunjukkan saya bagaimana Al-Masih Isa telah menjadi Penebus saya, dan bagaimana baginda telah menanggung hukuman bagi dosa-dosa saya -dan juga manusia sejagat-untuk kekal abadi! Sama seperti bagaimana anak Nabi Ibrahim telah diselamatkan daripada dijadikan korban sembelihan oleh penggantinya – seekor kibas yang telah disiapkan oleh Tuhan sendiri yakni penebusnya yang besar (fi’dia). Sesungguhnya peristiwa ini adalah satu gambaran nubuat yang Tuhan telah berikan kepada umatnya tentang kedatangan Isa al-Masih yang datang sebagai Penebus manusia yang kekal abadi!

Setelah saya sendiri telah meyakini penebusan hukuman dosa-dosa saya oleh korban yang telah dibayar oleh Tuhan sendiri -dengan nyawa Isa al-Masih yang sempurna, saya kini beroleh keyakinan juga untuk kedatangan baginda kembali ke dunia. Karena kini baginda bukan sahaja Sang Hakim yang adil itu, tetapi dia juga adalah Penebus dan Juruselamat saya untuk selama-lamanya! Halleluyah! Alhamdullilah!

Saya ingin sarankan kepada saudara-saudari yang dikasihi, kupaslah segala prasangka yang tidak berasas kamu terhadap Kitab Suci Injil. Bacalah Kitab Suci ini dengan fikiran yang terbuka. Tuhan akan memberkati saudara-saudari dengan anugerahNya yang maha suci dan indah! Saya ingin menutupi kesaksian saya dengan satu ayat daripada Kitab Suci Injil yang sungguh bermakna dan indah sekali:

“Kerana dengan rahmat Allah, kamu diselamatkan oleh sebab kamu percaya kepada Isa. Penyelamatan itu bukan hasil usaha kamu sendiri, melainkan dari kasih karunia Allah.”

Efesus 2 : 8-9

Semoga Tuhan memberkati pencarian saudara! Amin.

Sumber: http://www.harakahdaily.net/index.php?option=com_content&task=view&id=18467&Itemid=1

Sejauhmana indahnya hubungan Islam dan Kristian?

 

Fahri Abdullah al-Masri
Fri | Dec 26, 08 | 2:21:08 am MYT
Menjelangnya Hari Natal, saya teringat sebuah filem yang pernah saya tonton. Hassan wa Morkos (Hassan dan Marcus) adalah satu filem keluaran Mesir yang bersulamkan babak-babak dan watak-watak komedi.

Dan babak yang selebihnya berunsurkan isu-isu keagamaan yang bernada agak serius juga. Tapi, genre filem ini adalah komedi. Saya tidak tahu apakah hal ini disengajakan untuk mengelakkan berlakunya isu-isu kontroversi. Mungkin ini adalah salah satu strategi juga. Siapa tahu?

Filem yang terbit pada tahun ini mula ditayangkan November lalu sempena Kuala Lumpur International Film Festival (KLIFF). Tayangan filem-filem dari Arab, Mororco, Iran dan lain-lain negara Islam turut ditayangkan secara percuma di GSC Mid Valley dan GSC Pavilion Kuala Lumpur di Jalan Bukit Bintang. Tapi, antara kebanyakan filem, Hassan wa Morkos itulah yang benar-benar memikat jiwa dan mencabar pemikiran.

Filem ini mengungkap dilema yang terpaksa ditempuh oleh kedua-dua buah keluarga Muslim dan Kristian yang hidup dalam buruan pengganas di Mesir ekoran kegiatan keganasan yang terkait dengan gerakan al-Qaeda dan pengganas Kristian. Maka, atas nama keselamatan, mereka terpaksa menyamar dan kemudiannya bertukar agama olok-olok.

Ia adalah kisah mengenai seorang syeikh yang kuat pegangan agama dan kental spiritualnya. Saya lupa nama syeikh tersebut. Watak syeikh itu dipegang oleh pelakon terkenal yang pernah menempa nama di layar perak Hollywood, iaitu Omar Syariff. Untuk sementara, biarlah kita namakan dia sebagai Syeikh Omar.

Syeikh Omar ini, terpaksa melarikan diri daripada sekumpulan pengganas Muslim selepas adik lelakinya yang terlibat secara langsung dalam kumpulan pengganas telah mati dalam satu letupan dan serangan. Pada hari pengebumian adik lelakinya, teman-teman seperjuangan adik lelakinya telah datang menemui Syeikh Omar, memujuknya untuk kembali meneruskan perjuangan adiknya.

“Sekarang, tanggungjawab tuan untuk meneruskan perjuangannya,” kata tiga orang lelaki yang diutuskan menemui Syeikh Omar.

Bagaimanapun, Syeikh Omar menolak permintaan mereka itu. Penolakan itu menaikkan amarah di hati kumpulan tersebut. Selang tidak berapa lama, rumah syeikh Omar hangus dibakar. Beliau terus membuat penafian bahawa kebakaran di rumah mereka ada kaitan dengan kegiatan pengganas yang berdendam kepadanya.

Tapi, dengan ketibaan seorang pegawai polis tertinggi, Mokhtar Basya, akhirnya hal pihak pengganas yang berdendam dengan Syeikh Omar terdedah jua. Ekoran itu, Moktar Basya memberikan dokumen pengenalan diri yang baru kepada Syeikh Omar dengan nama Kristian, iaitu Morkos (Marcus). Termasuk seluruh keluarga Syeikh Omar turut diberikan nama dan identiti agama yang baru.

Paderi Baulus menukar namanya kepada Syeikh Hassan al-Attar
Di suatu sudut yang lain, seorang paderi merangkap guru besar dalam bidang teologi Kristian Goptik di Mesir turut menerima ancaman yang sama dalam muktamar antara penganut Muslim dan Kristian. Ugutan itu berlaku setelah Paderi Baulus (lakonan Adel Imam) melontarkan kecaman keras ke atas pengganas Kristian.

“Para penganut Kristian yang menggunakan kekerasan itu, bukanlah daripada kalangan kami,” tegas Paderi Baulus. “Gereja mengecam tindakan mereka yang melakukan keganasan ini atas nama agama.”

Selepas habis perhimpunan muktamar antara Muslim dan Kristian itu, dalam perjalanan pulang bersama anaknya, Paderi Baulus berasa ada sesuatu yang tak kena ke atas keretanya. Rupa-rupanya, ada rancangan membunuh daripada pengganas Kristian ke atas sang paderi ekoran kelantangannya dalam muktamar itu.

Sekali lagi, kes itu dirujuk kepada Mokhtar Basya, pegawai tinggi polis di Mesir. Akhirnya, di atas keselamatan nyawanya sekeluarga, untuk suatu tempoh tertentu, Paderi Baulus menggunakan nama Islam, Syeikh Hassan al-Attar, termasuk anak dan isteri beliau.

Banyak kisah jenaka yang berlaku dalam keluarga Syeikh Hassan al-Attar (Paderi Baulus) apabila mereka berpindah rumah. Paderi Baulus (dengan watak barunya Syeikh Hassan al-Attar) misalnya terpaksa ke masjid untuk menjawab permasalahan fekah penduduk setempat, hatta yang paling memenatkan ialah beliau terpaksa menjadi imam solat, termasuk solat Jumaat.

Akhirnya, Syeikh Hassan (Paderi Baulus) dan Morkos (Syeikh Omar) dipertemukan dalam sebuah rumah pangsa yang dimiliki oleh seorang Kristian. Maka, disitulah Morkos dan Syeikh Hassan mula mengikat tali persaudaraan sesama mereka, walaupun mereka berbeza identiti dan agama. Syeikh Omar (Morkos) menyangkakan Paderi Baulus (Syeikh Hassan al-Attar) adalah Muslim dan begitulah sebaliknya, Paderi Baulus menyangkakan Morkos seorang Kristian.

Melihat keakraban mereka, para penduduk sekitar perumahan itu tak menjangka bahawa penganut Islam dan Kristian akhirnya boleh tinggal sebumbung dan mereka boleh juga menjalankan urusan perniagaan roti bersama.

Satu babak yang paling menarik dan mungkin mencabar pemikiran kita ialah babak ketika mana Paderi Baulus (Syeikh Hassan al-Attar) dan Syeikh Omar (Morkos) mahu menunaikan ibadah menjelang masuknya waktu Maghrib. Mereka berpapasan keluar dari rumah, terus menuju ke sebuah masjid dan gereja yang berdekatan. Baik Syeikh Hassan dan Morkos menjadi serba-salah.

Morkos (Syeikh Omar) walaupun menyembunyikan keislamannya, tetapi ingin menunaikan Maghrib di masjid, walhal Syeikh Hassan al-Attar (Paderi Baulus) dan anak lelakinya Imad (nama Kristiannya, Girgis) ingin masuk ke dalam gereja. Akhirnya, mereka terpaksa menipu diri mereka sendiri. Paderi Baulus dan anaknya menyempurnakan amalannya di masjid manakala Morkos (Syeikh Omar) terpaksa berada di gereja ketika jemaah Muslim sedang menunaikan solat Maghrib.

Kedua-dua mereka tiada pilihan kerana terpaksa menyembunyikan identiti keislaman dan kekristianan masing-masing. Kalau watak agama mereka yang sebenarnya terbongkar, nyawa mereka dikhuatiri akan terancam. Morkos (Syeikh Omar) terpaksa berdoa dalam gereja menurut tatacara Islam. Dalam masa yang sama, Syeikh Hassan al-Attar (Paderi Baulus) terpaksa berdoa dalam masjid menurut tatacara Kristian.

Namun, karyawan filem nampaknya bijak menyusun keseimbangan antara kedua-dua jalur fikiran beragama. Misalnya, ketika babak watak Syeikh Hassan al-Attar tiba ke dalam masjid, ditunjukkan imam yang sedang membacakan Surah al-Ma’idah, ayat 82 yang bermaksud:-

“..Dan demi sesungguhnya, engkau akan dapati orang-orang yang dekat sekali kasih mesranya kepada orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: Bahasa kami ini ialah orang-orang Nasrani.” Yang demikian itu, disebabkan ada antara mereka pendeta-pendeta dan ahli-ahli ibadat, dan kerana mereka pula tidak berlaku sombong.”

Manakala Morkos (Syeikh Omar) pula, ketika keluar dari gereja terus bertanya Syeikh Hassan al-Attar (Paderi Baulus): “Katakan anda seorang Kristian, lalu anda berdoa dalam masjid, adakah doa anda diterima?” Lalu, sang paderi berkata:- (kalau tak salah ingatan saya..)

“Menurut Bible.. kitab suci pegangan saudara itu,” kata Paderi Baulus, “jika ada dua atau tiga orang di sekeliling kita, maka Tuhan tetap mendengar doa kita.”

Paderi Baulus lebih memahami hakikat kitab itu kerana beliau sendiri adalah guru besar dalam bidang teologi Kristian. Ringkasnya, nas-nas dan dalil-dalil dari al-Quran dan Bible ini turut disebutkan secara seimbang melalui kedua-dua penganut agama samawi lewat filem tersebut.

Rahsia mula terbongkar
Hubungan akrab yang terjalin mesra di antara kedua-dua buah keluarga itu akhirnya membenihkan bibit percintaan antara Imad (Girgis), anak Paderi Baulus (Syeikh Hassan al-Attar) dengan Fatima (Maria), iaitu anak kepada Morkos (Syeikh Omar). Namun, akhirnya, percintaan mereka terhalang setelah kedua-duanya mengetahui rahsia agama masing-masing.

Hubungan yang asalnya jernih antara kedua-dua keluarga mula menjadi keruh ekoran terbongkarnya rahsia antara kedua-dua buah keluarga tadi. Bagaimanapun, di akhir cerita, sebuah insiden kebakaran di rumah mereka akhirnya kembali meneguhkan pendirian mereka bahawa Islam dan Kristian itu sebenarnya lebih harmoni perhubungannya berbanding agama-agama lain seperti Yahudi dan paganisme.

Di hujung filem ini juga, babak-babak seterusnya diadun dengan menyiarkan khutbah para khatib dari atas mimbar dan ucapan para paderi di gereja yang menghasut para penganut kedua-dua agama samawi ini agar terus bersilang sengketa sesama mereka.

Pendek kata, Hassan wa Morkos berjaya mennyulam elemen komedi bersama unsur pemikiran yang berat untuk diketengahkan kepada penonton. Saya rasa puas hati dan berasa tidak rugi menonton filem ini.

Kekeruhan hubungan antara Islam dan Kristian, antara ideal dan realiti
Sejak peristiwa Perang Salib, kita tersasar menyatakan hubungan itu adalah ekoran perang antara Islam dan Kristian. Secara tepatnya, perang itu merupakan suatu perang mutlak antara Islam dan Yahudi.

Ini kerana, antara dalang dan tulang belakang kepada Institusi Beraja di Benua Eropah adalah golongan Knight Templar yang punya tatacara kefahaman baru yang langsung berbeza daripada tradisi amalan keagamaan Kristian.

Knight Templar, (juga dikenali sebagai Crusaders, yang kemudiannya dijenamakan sebagai Freemason) akhirnya telah memanjangkan tradisi Perang Salib di rantau Nusantara melalui cengkaman ksatria Knight Templar dari Portugis, iaitu Alfonso De Albuquerque di Melaka.

Secara ringkas, secara ideal, hubungan Islam dan Kristian memang suatu hubungan yang baik seperti yang digambarkan dalam al-Quran. Jika berlaku di sebaliknya, maka hal tersebut ada kaitan dengan jarum-jarum yang ditusuk Yahudi dan unsur-unsur daripada faham paganisme ke dalam jiwa kedua-dua penganut agama ini. Wallahu’alam..

1:51 a.m, 26 Disember
Sekolah pemikiran Kg Baru

 

Ulasan saya: Usaha yang baik.